Rabu, 07 Maret 2012

ekonomi

Posted by Rizal n Ridho On 14.22 | No comments
Ilmu Ekonomi
Sebelum mengenal ilmu ekonomi, manusia telah memahami caracara
berperilaku ekonomi dan bagaimana mengatur kehidupan ekonomi
sehari-hari. Cara-cara tersebut bukanlah hasil proses pemikiran ilmiah
seperti layaknya suatu cabang ilmu pengetahuan, melainkan hanya
seperangkat cara-cara yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
praktis. Tidak seorang pun tahu siapa penemunya.
Perkembangan ekonomi sebagai suatu
bidang ilmu pengetahuan bermula pada
tahun 1776, yaitu setelah terbitnya buku
karya Adam Smith yang berjudul An Inquiry
into the Nature and Causes of the Wealth of
Nations. Dalam buku tersebut, Adam Smith
menjelaskan masalah pokok dalam ilmu
ekonomi modern yaitu bagaimana meningkatkan
kemakmuran suatu negara dan
bagaimana kekayaan tersebut didistribusikan.
Beberapa pandangan dalam buku
tersebut masih dapat digunakan dalam
pemikiran ilmu ekonomi masa kini. Dengan
demikian, Adam Smith dikenal sebagai
”Bapak” ilmu ekonomi sekaligus pendiri aliran pemikiran
ekonomi yang disebut aliran klasik.
Anda telah mempelajari ilmu ekonomi sejak Anda duduk
di bangku sekolah dasar. Tentu banyak pengetahuan dan
pemahaman baru yang Anda peroleh. Misalnya tentang
prinsip ekonomi, motif ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan
manusia yang beragam.
Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan ilmu
ekonomi tersebut? Ilmu ekonomi adalah cabang ilmu sosial
yang menaruh perhatian pada masalah bagaimana
memuaskan kebutuhan manusia yang beraneka ragam. Paul
Samuelson, peraih penghargaan nobel di bidang ekonomi
tahun 1970, mendefinisikan ilmu ekonomi sebagai suatu studi
mengenai bagaimana seharusnya manusia atau masyarakat
menentukan pilihannya, baik dengan atau tanpa menggunakan
uang dalam memanfaatkan sumber daya yang
terbatas jumlahnya dan yang mempunyai alternatif penggunaan untuk
menghasilkan barang serta kemudian mendistribusikannya, baik untuk
keperluan masa sekarang maupun masa depan kepada berbagai
individu dan golongan masyarakat.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang
menganalisis ongkos dan manfaat (cost and benefit analysis) dari alokasi
sumber daya. Sumber daya atau sering disebut dengan faktor produksi
Sumber: www.jewoftheday
Gambar 6.2
Paul Samuelson
EKONOMI Kelas X 178
merupakan peralatan yang tersedia yang dapat digunakan untuk
menghasilkan benda yang memenuhi kebutuhan manusia. Sumber daya
ini bersifat terbatas, jumlahnya berubah-ubah, dan dapat dikombinasikan
untuk menghasilkan barang dan jasa.
Secara garis besar, analisis-analisis yang terdapat dalam ilmu
ekonomi dapat dibedakan menjadi dua bentuk analisis, yaitu ilmu
ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro.
1. Ekonomi Mikro
Kata mikro berasal dari bahasa Latin ”mikros” yang berarti kecil.
Namun, bukan berarti ekonomi mikro adalah kecil dan dianggap tidak
penting. Ekonomi mikro merupakan penjelasan dari variabel ekonomi
yang lebih kecil seperti konsumsi, investasi, dan tabungan. Ekonomi
mikro sering disebut sebagai teori harga (price theory).
Teori harga terutama membahas tentang aliran barang dan jasa
dari sektor perusahaan ke sektor rumah tangga, aliran faktor produksi
dari rumah tangga ke perusahaan, komposisi dari aliran-aliran tersebut
dan bagaimana terciptanya harga. Dari uraian ini dapat disimpulkan
bahwa teori harga mempelajari alokasi sumber-sumber daya yang
terbatas jumlahnya untuk tujuan yang sifatnya alternatif.
a. Aspek-Aspek yang Dipelajari Ekonomi Mikro
Ekonomi mikro menerangkan beberapa aspek tentang perilaku
pelaku ekonomi individual dan bagaimana mereka berinteraksi.
Aspek-aspek tersebut antara lain:
1) Interaksi di Pasar Barang
Aspek pertama yang diterangkan oleh ekonomi mikro
adalah mengenai mekanisme interaksi di pasar barang,
misalnya pasaran kopi atau pasaran karet. Pasar merupakan
pertemuan antara permintaan dan penawaran suatu barang.
Melalui interaksi antara penjual dan pembeli, pasar akan
menentukan harga keseimbangan.
Suatu perekonomian tidak mungkin hanya terdiri atas satu
pasar barang tertentu saja seperti yang dicontohkan. Beberapa
contoh lainnya adalah pasar kain, pasar mobil, dan pasar
barang-barang industri. Ekonomi mikro tidak menjelaskan
operasi keseluruhan pasar-pasar tersebut sebab pada
hakikatnya corak interaksi di antara penjual dan pembeli di
dalam setiap pasar tersebut adalah sama. Untuk menjelaskan
bagaimana suatu pasar berfungsi dan beroperasi, teori ekonomi
mikro hanya menerangkan tentang interaksi di antara penjual
dan pembeli di suatu pasar barang.
Kebijakan Bidang Ekonomi 179
2) Tingkah Laku Penjual (Produsen) dan Pembeli (Konsumen)
Aspek berikutnya yang dianalisis
dalam ekonomi mikro adalah tentang
tingkah laku pembeli dan penjual dalam
pasar. Untuk menganalisis perilaku
penjual dan pembeli ini, teori ekonomi
mikro menggunakan beberapa asumsi
(pemisalan). Pemisalan pertama adalah
para penjual dan pembeli menjalankan
kegiatan ekonomi mereka secara
rasional. Kedua, para pembeli berusaha
memaksimalkan kepuasan dan ketiga,
para penjual berusaha memaksimumkan
keuntungan yang akan diperoleh.
Berdasarkan pemisalan-pemisalan
tersebut, ekonomi mikro dapat menunjukkan:
a) Bagaimana seorang pembeli menggunakan
sejumlah pendapatan
(uang) untuk membeli berbagai jenis
barang dan jasa yang dibutuhkannya.
b) Bagaimana seorang penjual atau
produsen menentukan tingkat
produksi yang akan dilakukannya.
3) Interaksi di Pasar Faktor Produksi
Aspek penting lain yang dianalisis dalam ekonomi mikro
adalah interaksi penjual dan pembeli di pasar faktor produksi.
Seperti Anda ketahui, peran rumah tangga konsumen dalam
perekonomian adalah sebagai pemilik faktor-faktor produksi
yang berupa tenaga kerja, tanah, modal, dan kewirausahaan.
Mereka menawarkan faktor-faktor produksi tersebut untuk memperoleh
pendapatan yang seterusnya akan digunakan untuk
membeli barang dan jasa yang mereka butuhkan. Sebaliknya,
produsen membutuhkan faktor-faktor produksi untuk
memproduksi barang dan jasa. Oleh sebab itu, mereka akan
menjadi pembeli faktor-faktor produksi.
Interaksi antara pembeli dan penjual faktor produksi di
berbagai pasar faktor produksi (modal, pasar tenaga kerja) akan
menentukan ”harga” suatu faktor produksi dan berapa
banyaknya jumlah faktor produksi yang digunakan. Analisis ini
merupakan salah satu aspek penting dari analisis-analisis
ekonomi mikro.
Sumber: www.tempointeraktif.com
Gambar 6.4
Bursa efek merupakan contoh pasar faktor
produksi modal.
Sumber: Dokumen Penerbit
Gambar 6.3
Tingkah laku penjual dan pembeli merupakan
pokok bahasan ekonomi mikro.
EKONOMI Kelas X 180
b. Peranan Ekonomi Mikro
Pada dasarnya, teori-teori ekonomi
dapat digunakan sebagai dasar peramalan
(prediction). Peramalan yang dimaksud
bukan untuk mengetahui apa yang terjadi
di masa depan. Tetapi lebih tepat dikatakan
kalau teori ekonomi mikro dapat membuat
ramalan yang kondisional. Ramalan
kondisional ini diformulasikan sebagai
berikut. Apabila hal-hal seperti berikut
terjadi, maka akibat-akibat berikut ini pasti
terjadi sesudahnya.
Contoh ramalan kondisional ini adalah
dalam model keseimbangan pasar.
Dikatakan bahwa bila kurva permintaan
mempunyai kemiringan negatif dan kurva penawaran memiliki
kemiringan positif, maka adanya kenaikan harga di atas harga
keseimbangan akan menciptakan kelebihan barang di pasar. Jadi,
hasil ramalan yang diperoleh harus didasarkan pada asumsi-asumsi
(anggapan dasar) tertentu, misalnya asumsi ceteris paribus. Apabila
anggapan-anggapan tersebut diubah, maka hasil peramalannya
akan berbeda.
Ekonomi mikro juga dapat diterapkan pada pengambilan
kebijakan perekonomian, yaitu untuk menganalisis tindakantindakan
pemerintah yang dilakukan untuk memengaruhi perekonomian.
Misalnya pengaruh kebijakan pemerintah di bidang upah
buruh terhadap alokasi sumber daya di kegiatan produksi. Atau,
pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap biaya
produksi yang harus ditanggung oleh perusahaan dan biaya hidup
yang ditanggung oleh rumah tangga konsumen.
Bagi dunia usaha, metode-metode yang dikembangkan dari
ekonomi mikro seperti teori produksi dan teori konsumsi dapat
digunakan dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Sumber: www.pikiranrakyat.com
Gambar 6.5
Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi alokasi
sumber daya oleh pelaku ekonomi.
Anda telah mengetahui aspek-aspek yang dipelajari dalam ekonomi mikro
dan peranan ekonomi mikro tersebut. Sebagai pelajar dan sebagai
konsumen, manfaat apa yang Anda peroleh dengan mempelajari ekonomi
mikro? Tulislah uraian Anda dalam selembar kertas dan kumpulkan kepada
guru Anda.
Kebijakan Bidang Ekonomi 181
c. Pelaku Ekonomi Mikro
Struktur perekonomian Indonesia terdiri atas berbagai kelompok
pelaku ekonomi baik di tingkat mikro maupun di tingkat makro.
Ekonomi rakyat atau usaha mikro merupakan kelompok pelaku
ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia. Usaha mikro
umumnya bergerak di sektor pertanian, perdagangan, dan industri
rumah tangga. Usaha mikro atau usaha kecil memiliki keunggulan
dalam hal memanfaatkan sumber daya alam di daerah setempat
dan bersifat padat karya sehingga bisa membantu mengurangi
pengangguran. Selain itu, usaha kecil dapat menjadi media untuk
memeratakan pembangunan.
Usaha-usaha mikro ini justru beroperasi secara kompetitif dan
tidak banyak menerima subsidi dari pemerintah jika dibandingkan
dengan perusahaan besar. Hal ini menuntut usaha kecil agar lebih
efisien. Dengan demikian perkembangan usaha mikro memiliki
potensi yang besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Usaha mikro sangat mudah ditemui di sekitar kita, sebagai
pelaku ekonomi ditingkat mikro, usaha mikro (kecil) bersama-sama
badan usaha lain seperti badan usaha milik negara (BUMN) dan
badan usaha milik swasta (BUMS) memiliki pola perilaku (interaksi)
yang dapat memengaruhi perekonomian secara makro. Misalnya,
ketika BUMS ingin melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah
karyawan maka secara mikro keputusan tersebut dapat diterima,
namun secara makro akan berdampak pada peningkatan jumlah
pengangguran. Sebaliknya, kondisi di tingkat makro juga dapat
memengaruhi perusahaan secara mikro. Misalnya ketika terjadi
inflasi, Bank Indonesia cenderung menerapkan kebijakan yang akan
memberatkan dunia usaha atau pelaku ekonomi di tingkat mikro.
Oleh karena itu, sangat penting untuk menerapkan kebijakan di
tingkat makro yang berpengaruh positif pada pelaku ekonomi mikro.
2. Ekonomi Makro
Ilmu ekonomi makro berkembang sejak,
terjadinya depresi besar yang terjadi dalam waktu
relatif lama, yaitu antara tahun 1929 hingga tahun
1933 dan menimbulkan masalah-masalah besar
di dunia. Misalnya, di Amerika Serikat selama
periode depresi ini terjadi pengangguran hingga
25 persen dari total angkatan kerja, output
perekonomian berkurang hingga separuhnya.
Sementara tingkat investasi merosot tajam.
Dalam keadaan yang tidak menentu tersebut,
seorang ekonom Inggris, John Maynard Keynes
melontarkan pendapat untuk memperbaiki
Sumber: www.bergen.org
Gambar 6.6
Antrean pengangguran yang mencari kerja pada
masa Great Depression.
EKONOMI Kelas X 182
keadaan melalui bukunya The General Theory of Employment, Interest,
dan Money.
Keynes memandang pemerintah sebagai faktor
utama yang mampu mengimbangi guncanganguncangan
dalam perekonomian. Apabila bisnis
sedang lesu dan investasi menurun, pemerintah dapat
melakukan investasi, karena pemerintah tidak mencari
keuntungan. Investasi pemerintah menghasilkan pendapatan
yang sama besarnya dengan pendapatan
yang dapat dihasilkan oleh investasi swasta.
Pendapatan yang diakibatkan oleh pengeluaran
(investasi) pemerintah akan memperluas pasar,
dengan demikian akan meningkatkan kembali kegiatan
dunia usaha.
Lalu, apakah pengertian ekonomi makro
tersebut? Makro berarti besar, dari arti kata ”makros”
tersebut sudah dapat Anda duga bahwa teori ini
menganalisis kegiatan perekonomian secara
keseluruhan. Analisisnya bersifat global dan tidak
memerhatikan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh unit-unit kecil
dalam perekonomian. Misalnya, dalam menganalisis mengenai kegiatan
pembeli (konsumen), yang dianalisis bukanlah mengenai tingkah laku
seorang pembeli saja, tetapi keseluruhan pembeli yang ada di pasar.
Begitu pula dalam menganalisis tingkah laku produsen, yang diamati
bukanlah kegiatan seorang produsen, tetapi kegiatan seluruh produsen
dalam perekonomian.
a. Aspek-Aspek yang Dipelajari Ekonomi Makro
Fokus pembahasan ekonomi makro adalah bagaimana perilaku para
pelaku ekonomi dalam konteks agregat (keseluruhan).
1) Penentuan Tingkat Kegiatan Perekonomian
Aspek pertama yang dibahas dalam ekonomi makro adalah
penentuan tingkat kegiatan perekonomian negara, yaitu analisis
mengenai sampai di mana suatu perekonomian akan
menghasilkan barang dan jasa. Dalam hal ini, Keynes
berpendapat bahwa tingkat kegiatan perekonomian ditentukan
oleh pengeluaran agregat dalam perekonomian. Komponenkomponen
pengeluaran agregat tersebut berasal dari
pengeluaran rumah tangga (konsumsi rumah tangga
konsumen), pengeluaran pemerintah, pengeluaran perusahaan
atau investasi serta selisih antara ekspor dan impor. Analisis
dalam ekonomi makro akan memerhatikan pengaruh perubahan
harga-harga dan perubahan penawaran terhadap pengeluaran
agregat.
Sumber: www.theworldgreatestbooks.com
Gambar 6.7
Buku karya Keynes.
Kebijakan Bidang Ekonomi 183
2) Langkah-Langkah Pemerintah untuk Mengatasi Inflasi dan
Pengangguran
Setiap masyarakat mengharapkan penggunaan penuh dari
semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia. Kondisi
ini disebut full employment atau kesempatan kerja penuh. Dalam
kondisi full employment hampir tidak ada pengangguran atau
modal yang tidak digunakan.
Namun, kondisi kesempatan kerja penuh ini sulit dicapai.
Adakalanya permintaan agregat lebih rendah daripada yang
diperlukan untuk mencapai kesempatan kerja penuh. Keadaan
ini menimbulkan pengangguran.
Adakalanya pula, permintaan agregat
melebihi kemampuan perekonomian
untuk memproduksi barang dan jasa.
Keadaan ini menimbulkan masalah
kenaikan harga atau inflasi. Inflasi dan
pengangguran mempunyai dampak
negatif terhadap perekonomian.
Perekonomian tidak dapat secara
otomatis mengatasi masalah-masalah
tersebut sehingga diperlukan peran
pemerintah. Bentuk peran pemerintah ini
merupakan aspek yang dibahas dalam
ekonomi makro.
c. Interaksi dengan Perekonomian Dunia
Dewasa ini tidak ada satu negara pun yang dapat berdiri sendiri
dalam upaya lebih menyejahterakan rakyatnya. Karena itulah kerja
sama ekonomi internasional, terutama perdagangan antarnegara
harus dilakukan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kerja
sama tersebut makin menguntungkan atau merugikan? Secara
ekonomis, keuntungan atau kerugian sebagai dampak kerja sama
internasional terdeteksi melalui analisis neraca pembayaran dan
atau nilai tukar mata uang.
Sumber: www.getdown.org
Gambar 6.8
Inflasi terjadi saat permintaan agregat melebihi
produksi barang dan jasa.
Jelaskan mengapa perdagangan internasional masuk dalam aspek
ekonomi makro!
B. Masalah yang Dihadapi Pemerintah di Bidang
Ekonomi
Anda telah memahami aspek-aspek yang dipelajari dalam ekonomi mikro
maupun ekonomi makro. Dalam proses pengambilan keputusan atau
kebijakan pemerintah, pemahaman mengenai ekonomi mikro dan makro
sangat penting agar kebijakan tersebut efektif dalam memecahkan
masalah-masalah ekonomi. Masalah-masalah yang dihadapi pemerintah
di bidang ekonomi antara lain.
EKONOMI Kelas X 184
1. Masalah Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator utama untuk
mengetahui kinerja perekonomian. Suatu perekonomian dikatakan
mengalami pertumbuhan ekonomi jika jumlah produksi barang dan jasa
meningkat daripada tahun sebelumnya. Besarnya produksi barang dan
jasa ini disebut dengan Produk Domestik Bruto (PDB).
Jadi, yang disebut sebagai ”pertumbuhan ekonomi” tidak lain adalah
peningkatan nilai total barang dan jasa yang diproduksi dalam sebuah
perekonomian.
Pemerintah dalam hal ini berkepentingan memantau perkembangan
pertumbuhan PDB baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Mengapa demikian? Dengan PDB, pemerintah dapat mengukur
besarnya dampak, efektivitas, dan efisiensi campur tangan pemerintah
terhadap perekonomian.
Pada periode tahun 1970–1980 Indonesia pernah mengalami masamasa
pertumbuhan ekonomi tinggi, yaitu rata-rata 8% per tahun. Namun,
setelah krisis multidimensional tahun 1997, pertumbuhan ekonomi
Indonesia cenderung rendah. Berdasarkan data dari BPS, rata-rata
pertumbuhan ekonomi antara tahun 2001 hingga 2005 hanya sebesar
4,7% (tidak lebih dari 5% per tahun). Rendahnya pertumbuhan ekonomi
ini mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat dan
munculnya berbagai masalah sosial yang mendasar misalnya
pengangguran.
Kebutuhan Investasi untuk Menunjang Pertumbuhan
Ekonomi
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,7 persen, Indonesia
setidaknya membutuhkan investasi Rp716 triliun. Angka tersebut jauh dari
investasi pemerintah yang dianggarkan dalam APBN 2006 sekitar Rp169
triliun. Pembiayaan investasi membutuhkan upaya keras. Dari sisi
pemerintah, stimulasi fiskal dalam bentuk belanja modal diharapkan dapat
terlaksana dan hambatan administratif tidak terjadi lagi.
Sumber lainnya adalah kredit perbankan yang diperkirakan bisa
mencapai Rp146 triliun atau 20,4 persen dari total keperluan investasi.
Sumber pembiayaan terbesar adalah dari eksternal yang mencapai Rp338,9
triliun atau 47 persen dari total keperluan investasi.
Pembiayaan eksternal meliputi investasi asing langsung sebesar
Rp165,6 triliun dari aliran masuk dari luar negeri, termasuk pinjaman dan
surat-surat berharga Rp173,3 triliun. Sedangkan sisanya dari pasar modal
dan lembaga keuangan nonbank senilai Rp62,1 triliun.
Dari sisi eksternal, masuknya investasi asing langsung membutuhkan
konsistensi dalam menjaga kestabilan politik dan ekonomi. Sedangkan dari
sisi perbankan, butuh konsolidasi terus-menerus. Langkah ini dibutuhkan
Kebijakan Bidang Ekonomi 185
agar angka penyaluran kredit tetap tinggi. Sedangkan dari sisi sumber
pembiayaan lainnya, dibutuhkan pengembangan pasar modal dan lembaga
keuangan nonbank.
2. Masalah Inflasi
Inflasi merupakan gejala kenaikan harga yang
bersifat umum dan terus-menerus. Naiknya harga
beras tidak akan memicu inflasi jika harga
komoditas-komoditas lain tidak naik, dan atau jika
kenaikan harga beras tidak terjadi terus-menerus.
Dari sisi teori ekonomi, gejala inflasi menunjukkan
terjadinya kelebihan permintaan (excess demand)
di tingkat makro. Dalam arti, dari gejala inflasi dapat
disimpulkan bahwa seluruh atau hampir seluruh
industri dalam perekonomian mengalami kelebihan
permintaan. Selain tekanan permintaan, inflasi
dapat terjadi karena dorongan biaya, yaitu
kenaikan biaya produksi yang berdampak pada naiknya harga barang
dan jasa.
Sumber: Dokumen Penerbit
Gambar 6.9
Perkembangan harga barang-barang di atas
mengindikasikan tingkat inflasi.
Perkembangan kondisi perekonomian suatu negara dapat diketahui dari
perkembangan indikator-indikator makroekonominya. Untuk mengetahui
berbagai indikator makroekonomi Indonesia, Anda dapat membuka
beberapa situs seperti www.bappenas.go.id,www.bi.go.id atau www.kadin-
Indonesia.or.id dengan kata kunci ”indikator ekonomi” atau ”laporan
ekonomi”. Rangkumlah hasil pencarian Anda untuk ditambahkan pada buku
catatan Anda.
3. Masalah Pengangguran
Yang dimaksud dengan pengangguran adalah besarnya angkatan
kerja yang ingin dan bersedia bekerja tetapi tidak mendapat pekerjaan
seperti yang diinginkan. Tingkat pengangguran dalam suatu periode
tertentu biasanya dinyatakan dalam persen dari angkatan kerja. Angka
pengangguran yang tinggi akan membawa dampak berkurangnya
kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Secara ekonomi, tingkat
pengangguran yang tinggi menunjukkan bahwa alokasi sumber daya
manusia masih belum efisien karena banyak sumber daya manusia yang
belum terpakai.
EKONOMI Kelas X 186
Sumber: Kompas, 30 April 2006
Gambar 6.10
Tingginya pencari kerja menunjukkan tingginya
pengangguran.
Selain dilihat dari persentasenya, angka pengangguran juga harus
dilihat dari angka absolutnya. Misalnya, pada tahun 2005 Indonesia dan
Singapura memiliki tingkat pengangguran 5% per
tahun. Dengan jumlah penduduk 4,4 juta jiwa,
jumlah pengangguran di Singapura hanya
220.000 orang. Sedangkan di Indonesia yang
berpenduduk 210 juta jiwa, jumlah pengangguran
mencapai 10.500.000 orang.
Masalah pengangguran sangat terkait
dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan
ekonomi yang rendah tidak akan mampu
menciptakan lapangan kerja yang memadai untuk
menampung tambahan angkatan kerja, yaitu
penduduk usia kerja yang mencari pekerjaan.
4. Masalah Kemiskinan dan Pemerataan Distribusi
Pendapatan
Pemerintah selalu berupaya agar alokasi sumber daya dapat
dinikmati oleh seluruh anggota masyarakat. Namun demikian, karena
keadaan masyarakat sangat beragam dan tingkat kemajuan ekonomi
yang masih lemah maka sering muncul masalah kesenjangan distribusi
pendapatan.
a. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi
oleh berbagai faktor yang saling berkaitan antara lain tingkat
pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan
jasa, lokasi, dan kondisi di mana seseorang atau masyarakat tidak
terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan
mengembangkan kehidupan yang bermartabat.
Bagaimana cara Anda mengenali kondisi kemiskinan di sekitar
Anda? Pertama-tama Anda dapat mengukur kemiskinan absolut.
Kemiskinan absolut menunjukkan keadaan seseorang yang memiliki
pendapatan di bawah garis kemiskinan (poverty line), yaitu besarnya
nilai rupiah yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan
hidup minimal. Kedua, Anda dapat mengukur kemiskinan relatif,
yaitu orang yang mempunyai tingkat pendapatan relatif lebih rendah
dibanding masyarakat di sekitarnya.
Selanjutnya, bagaimana ciri-ciri masyarakat miskin tersebut?
Cermatilah uraian berikut ini.
1) Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan.
2) Terbatasnya akses dan rendahnya mutu kesehatan.
3) Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha.
Kebijakan Bidang Ekonomi 187
4) Terbatasnya akses terhadap perumahan sehat, air bersih, dan
sanitasi.
5) Beban tanggungan yang tinggi karena banyaknya jumlah anak
dalam keluarga.
b. Kesenjangan Distribusi Pendapatan
Kesenjangan distribusi pendapatan menunjukkan adanya perbedaan
yang mencolok antara golongan masyarakat yang berpenghasilan
tinggi dengan masyarakat yang berpenghasilan
rendah. Tinggi rendahnya kesenjangan
pendapatan dapat diukur melalui kriteria bank,
yaitu.
1) Apabila kelompok 40% penduduk termiskin
memperoleh pendapatan lebih kecil
dari 12% dari keseluruhan pendapatan
nasional, maka dikatakan ketimpangan
pendapatannya tinggi.
2) Apabila kelompok 40% penduduk termiskin
memperoleh pendapatan 12–7% dari
keseluruhan pendapatan nasional, maka
dikatakan ketimpangannya sedang
(moderat).
3) Apabila kelompok 40% penduduk termiskin
memperoleh pendapatan lebih dari
17% dan keseluruhan pendapatan nasional,
maka dikatakan bahwa tingkat
ketimpangannya rendah.
C. Kebijakan Ekonomi Pemerintah dalam
Mengatasi Masalah Ekonomi
Berbeda dengan ekonomi mikro, dalam ekonomi makro pembahasan
pemerintah dalam perekonomian mempunyai porsi yang relatif besar.
Pemerintah berperan penting dalam mengatasi masalah ekonomi melalui
kebijakan-kebijakannya.
1. Sasaran Kebijakan Ekonomi
Untuk menghadapi tantangan ekonomi Indonesia saat ini, pemerintah
menetapkan tiga tujuan utama yang menjadi fokus kerja ekonomi
pemerintah.
a. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Bagi suatu negara yang tengah membangun, pertumbuhan ekonomi
sangat penting dan dibutuhkan. Sebab, tanpa pertumbuhan tidak
akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, kesempatan
kerja, produktivitas, dan distribusi pendapatan. Pertumbuhan
ekonomi juga penting untuk mempersiapkan perekonomian
menjalani tahapan kemajuan selanjutnya.
Sumber: www.umno.reform.com
Gambar 6.11
Kesenjangan distribusi pendapatan banyak
dijumpai di perkotaan.
EKONOMI Kelas X 188
b. Meningkatkan Kualitas Pertumbuhan Ekonomi
Dengan jumlah pengangguran yang semakin bertambah, kualitas
pertumbuhan perlu ditingkatkan agar kegiatan ekonomi dapat
menciptakan lapangan kerja yang lebih besar dan mengurangi
penduduk miskin.
c. Menjaga Stabilitas Ekonomi Makro
Kestabilan ekonomi makro menyangkut tiga elemen, yaitu tingkat
bunga, tingkat inflasi, dan nilai tukar. Ketiga elemen tersebut saling
memengaruhi satu sama lain. Ketiga elemen tersebut selain harus
tetap stabil juga harus berada dalam tingkat kewajaran. Artinya,
ketiganya mampu menggerakkan roda perekonomian secara sehat.
2. Peranti atau Alat-Alat Kebijakan Ekonomi Makro
Pencapaian tujuan kebijakan ekonomi makro sangat ditentukan oleh
bagaimana memilih cara terbaik untuk melaksanakan. Alat-alat kebijakan
ekonomi makro menyangkut perubahan beberapa variabel ekonomi yang
secara langsung atau tidak langsung akan memengaruhi tujuan ekonomi.
Peranti atau alat kebiasaan ekonomi makro yang diterapkan
pemerintah untuk berbagai kondisi ekonomi antara lain:
a. Kebijakan Fiskal
Dua eleman kebijakan fiskal adalah pengeluaran pemerintah dan
pajak. Pengeluaran pemerintah meliputi pengeluaran untuk membeli
barang-barang konsumsi, barang produksi, jasa, atau pembayaran
gaji pegawai dan Tentara Nasional Indonesia. Pengeluaran
pemerintah merupakan faktor yang menentukan pengeluaran
agregatif. Elemen lain kebijakan fiskal adalah perpajakan. Dengan
adanya pajak penghasilan, akan mengurangi pendapatan
masyarakat dan selanjutnya akan menurunkan tingkat konsumsi
mereka. Kebijakan ini sering digunakan untuk mengatasi inflasi.
b. Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter merupakan upaya pemerintah untuk menambah
atau mengurangi jumlah uang beredar. Kebijakan moneter dapat
berupa kebijakan uang ketat (tight money) atau kebijakan uang
longgar (easy money). Kebijakan uang ketat berarti pemerintah ingin
menurunkan jumlah uang beredar dan sebaliknya, kebijakan uang
longgar berarti pemerintah ingin menaikkan jumlah uang beredar.
c. Kebijakan Penetapan Harga
Untuk menstabilkan harga dan mengendalikan inflasi, pemerintah
dapat menetapkan harga barang-barang dan jasa tertentu. Misalnya,
harga sembilan bahan pokok, barang-barang strategis seperti semen
dan pupuk, tarif dasar listrik, ataupun beberapa jenis BBM.
d. Kebijakan Hubungan Ekonomi Internasional
Kebijakan ini meliputi pengendalian nilai kurs, pembatasan, dan
pengawasan perdagangan, penentuan tarif impor, atau subsidi
ekspor. Dengan semakin terbukanya perekonomian dunia berarti
semakin besar dan pentinglah arti kebijakan ekonomi internasional.


Konsep-Konsep Penting Mengenai Pendapatan
Nasional
Sebelum Anda mempelajari tentang pendapatan nasional, ada baiknya
Anda mengenal dahulu beberapa konsep yang masih berhubungan
dengan pendapatan nasional ini.
1. Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto/PDB (Gross Domestic Product/GDP) menghitung
nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara
selama satu tahun. Barang dan jasa yang dihasilkan ini dihitung tanpa
memerhatikan siapa pemilik faktor produksi tersebut. Artinya, barang
dan jasa tersebut bisa diproduksi oleh warga negara yang bersangkutan
maupun warga negara asing yang bekerja di wilayah negara tersebut.
Pernahkah Anda mendengar istilah
”Perusahaan multinasional atau Multi National
Corporation (MNC)?” Contoh perusahaan
multinasional ini adalah Coca Cola, Kentucky
Fried Chicken (KFC), atau Mc Donald yang
beroperasi di beberapa negara. MNC membantu
menaikkan nilai barang dan jasa yang dihasilkan
oleh berbagai negara tempat beroperasinya
perusahaan ini. MNC menyediakan modal,
teknologi, dan tenaga ahli di negara tersebut.
MNC tersebut membantu menambah barang atau
jasa dan penggunaan tenaga kerja, sehingga
operasi perusahaan merupakan bagian yang
cukup penting dalam kegiatan ekonomi suatu negara, serta nilai
produksinya dihitung dalam Produk Domestik Bruto. Padahal, pemilik
perusahaan multinasional bukan berasal dari negara tempat
beroperasinya perusahaan ini.
Dengan demikian, Produk Domestik Bruto/PDB (Gross Domestic
Product/GDP) adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang
dihasilkan oleh faktor-faktor produksi baik milik warga negara maupun
orang asing yang tinggal di suatu negara tersebut. Berdasarkan
pengertian ini, maka penghasilan warga negara yang bekerja di luar
negeri tidak ikut diperhitungkan, tetapi penghasilan orang asing yang
bekerja di negara tersebut dimasukkan dalam perhitungan.
2. Produk Nasional Bruto (PNB)
Produk Nasional Bruto/PNB (Gross National Product/GNP), dihitung
dengan menjumlahkan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga
negara tersebut baik yang tinggal di dalam negeri maupun di luar negeri.
Nilai produksi yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi yang digunakan
di luar negeri juga dihitung dalam Produk Nasional Bruto.
Sumber: Tempo, 15 Februari 2004
Gambar 7.1
Nilai produksi perusahaan multinasional yang
ada di Indonesia masuk dalam hitungan PDB.
198 EKONOMI Kelas X
Dalam Produk Nasional Bruto tidak dihitung produksi yang dihasilkan
oleh faktor-faktor produksi milik penduduk negara lain. Jadi, keuntungan
perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia tidak dihitung
dalam Produk Nasional Bruto Indonesia. Sebaliknya, pendapatan
pekerja-pekerja Indonesia (TKI/TKW) yang bekerja di Arab Saudi
dimasukkan ke dalam perhitungan Produk Nasional Bruto Indonesia.
Bagaimana, dapatkah Anda membedakan antara PDB dan PNB?
Secara matematis, yang membedakan antara PDB dengan PNB adalah
pendapatan neto atas faktor dari luar negeri (nett factor income from
abroad). Variabel ini menunjukkan besarnya pendapatan yang diperoleh
dari faktor produksi yang ada di luar negeri dikurangi pendapatan yang
diperoleh dari faktor produksi yang berasal dari orang asing di dalam
negeri. Dengan demikian dapat ditulis:
PNB = PDB + PFPN
Keterangan:
PDB : Produk Domestik Bruto.
PNB : Produk Nasional Bruto.
PFPN : Pendapatan Neto atas Faktor Produksi dari Luar Negeri.
Apabila PFPN bernilai negatif, berarti pembayaran terhadap faktorfaktor
pendapatan luar negeri lebih besar daripada penerimaan atas
balas jasa faktor produksi dalam negeri yang digunakan oleh
perekonomian luar negeri. Angka ini menunjukkan bahwa nilai impor
faktor produksi lebih besar daripada ekspor faktor produksi.
Manakah yang lebih besar bagi Indonesia, Produk Nasional Bruto (PNB)
ataukah Produk Domestik Bruto (PDB)? Mengapa demikian? Diskusikan
dengan kelompok Anda!
3. Produk Nasional Neto (PNN)
Angka-angka produk nasional di atas disebut bruto, karena di
dalamnya masih tercakup biaya produksi yang belum dipotong, yaitu
penyusutan. Dalam setiap harga pasar, suatu barang mengandung nilai
depresiasi (penyusutan). Penyusutan sesungguhnya termasuk biaya
produksi yang harus diperhitungkan dalam harga pokok dan tidak dapat
dihitung sebagai laba. Industri-industri akan menggunakan barangbarang
modal (mesin, peralatan produksi, bangunan, dan perabot kantor)
untuk menghasilkan barang-barang. Nilai barang-barang modal tersebut
akan semakin susut (berkurang) dari satu periode ke periode berikutnya.
Pendapatan Nasional 199
Susutnya nilai tersebut merupakan bagian dari ongkos produksi. Oleh
sebab itu, dalam setiap harga penjualan suatu barang dimasukkan nilai
depresiasi barang modal. Dengan kata lain, besarnya pendapatan
nasional pada harga pasar telah memasukkan nilai penyusutan barang
modal yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan nasional.
Pendapatan nasional yang belum memperhitungkan unsur
depresiasi dinamakan Produk Nasional Bruto (PNB). Untuk memperoleh
Produk Nasional Neto/PNN (Net National Product/NNP) nilai depresiasi
tadi harus dikurangkan dari Produk Nasional Bruto. Persamaannya
menjadi sebagai berikut.
PNN = PNB – Depresiasi
4. Pendapatan Nasional Neto (PN)
Pendapatan Nasional Neto/PN (Net National Income/NNI) adalah
produk nasional neto dikurangi dengan pajak tidak langsung (misalnya
cukai rokok, bea impor, pajak penjualan, dan lain-lain) ditambah subsidi.
PN = PNN – Pajak tidak langsung + Subsidi
Pajak tidak langsung harus dikurangkan, karena tidak mencerminkan
balas jasa atas faktor produksi. Uang pajak memang diterima oleh
penjual/produsen bersama harga pasar barang yang dijualnya, tetapi
uang pajak itu wajib diserahkan kepada pemerintah. Sedangkan subsidi
harus ditambahkan karena harga-harga tertentu yang dibuat lebih murah
daripada biaya produksi sesungguhnya, misalnya untuk subsidi harga
pupuk, BBM, atau beras.
5. Pendapatan Perseorangan
Pendapatan Perseorangan (Personal Income/PI) adalah bagian
pendapatan nasional yang merupakan hak individu-individu dalam
perekonomian, sebagai balas jasa keikutsertaan mereka dalam proses
produksi. Tetapi tidak semua pendapatan sampai ke tangan masyarakat
karena masih dikurangi dengan laba yang ditahan, iuran asuransi, iuran
jaminan sosial, dan ditambah dengan pembayaran pindahan/transfer
(transfer payment) dan pendapatan bunga yang diperoleh dari
pemerintah dan konsumen. Pendapatan perseorangan dapat ditulis
dalam rumus berikut.
PI = NNI + transfer payment + pendapatan bunga – (laba
ditahan + iuran asuransi + iuran jaminan sosial)
6. Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi
Pendapatan Perseorangan Siap Konsumsi (Personal Income
Disposable) adalah pendapatan perseorangan yang dipakai oleh
individu, baik untuk membiayai konsumsinya maupun untuk ditabung.
200 EKONOMI Kelas X
Besarnya pendapatan perseorangan siap konsumsi adalah pendapatan
perseorangan dikurangi pajak penghasilan.
Pendapatan perseorangan siap konsumsi = Pendapatan perseorangan
– Pajak penghasilan
Dari produk domestik bruto sampai ke pendapatan perseorangan
siap konsumsi dapat diringkas sebagai berikut.
Produk Domestik Bruto (PDB)
- Menurut lapangan usaha.
- Menurut jenis pengeluaran.
Ditambah (+) = Pendapatan faktor produksi domestik yang ada
di luar negeri.
Dikurangi (–) = Pembayaran faktor produksi luar negeri yang
ada di dalam negeri.
––––––––––––––––––––––––––––––––––––
= Produk Nasional Bruto (PNB).
Dikurangi (–) = Penyusutan/Depresiasi.
––––––––––––––––––––––––––––––––––––
= Produk Nasional Neto (PNN).
Dikurangi (–) = Pajak Tidak Langsung.
Ditambah (+) = Subsidi
––––––––––––––––––––––––––––––––––––
= Pendapatan Nasional (PN).
Dikurangi (–) = Laba ditahan.
Dikurangi (–) = Pembayaran asuransi.
Dikurangi (–) = Pembayaran jaminan sosial.
Ditambah (+) = Pendapatan bunga.
Ditambah (+) = Pembayaran transfer.
––––––––––––––––––––––––––––––––––––
= Pendapatan perseorangan.
Dikurangi (–) = Pajak penghasilan.
––––––––––––––––––––––––––––––––––––
Pendapatan perseorangan siap konsumsi.
7. Pendapatan Per Kapita
Pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata penduduk pada
suatu negara pada waktu tertentu. Nilainya diperoleh dari membagi nilai
Produk Nasional Bruto atau Produk Domestik Bruto tahun tertentu
dengan jumlah penduduk pada tahun tersebut.
Pendapatan per kapita =





Pendapatan Nasional 201
Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai indikator
pembangunan yang menunjukkan tingkat kesejahteraan rakyat. Selain
itu, pendapatan per kapita sering digunakan untuk membedakan tingkat
kemajuan ekonomi antarnegara.
B. Menghitung Pendapatan Nasional
Ada tiga cara menghitung pendapatan nasional, hal ini tergantung
dari cara pandang atau pendekatan yang digunakan serta metode
perhitungannya.
1. Pendekatan Produksi
Dengan menggunakan metode produksi, pendapatan nasional
dihitung dengan menjumlahkan produksi barang dan jasa selama satu
tahun (biasanya satu tahun kalender). Volume produksi dihitung menurut
sektor usaha dan dinilai dalam uang (Rp). Hasil totalnya disebut Produk
Domestik Bruto (PDB). Untuk keperluan ini perekonomian Indonesia
dibagi ke dalam sembilan sektor lapangan usaha. Kesembilan lapangan
usaha ini adalah:
a. Pertanian.
b. Pertambangan dan penggalian.
c. Industri.
d. Listrik, gas, dan air bersih.
e. Bangunan atau konstruksi.
f. Perdagangan, hotel, dan restoran.
g. Pengangkutan dan komunikasi.
h. Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan.
i. Jasa-jasa lain.
Setiap sektor tersebut masih dibagi lagi ke dalam subsektor. Contoh
sektor pertanian dibagi lagi menjadi subsektor sebagai berikut.
a. Tanaman bahan makanan.
b. Tanaman perkebunan.
c. Peternakan dan hasil-hasilnya.
d. Hasil hutan.
e. Hasil perikanan.
Perhitungan pendapatan nasional dengan cara produksi lebih
banyak dilakukan di negara-negara berkembang. Berikut ini akan
disajikan data Produk Domestik Bruto Indonesia tahun 2003 sampai
2005.
202 EKONOMI Kelas X
Sumber: www.bps.go.id
Tabel 7.1 Nilai PDB Tahun 2003, 2004, dan 2005
No. Lapangan Usaha
Atas Dasar Atas Dasar
Harga Berlaku Harga Konstan 2000
(Triliun Rupiah) (Triliun Rupiah)
2003 2004 2005 2003 2004 2005
1. Pertanian, peternakan, kehutanan, 325,7 354,4 365,6 243,1 252,9 254,4
dan perikanan
2. Pertambangan dan penggalian 169,5 196,9 285,1 168,4 160,7 162,6
3. Industri pengolahan 590,1 652,7 766,0 441,8 469,1 491,7
4. Listrik, gas, dan air bersih 19,5 22,9 25,0 10,4 11,1 11,6
5. Bangunan 112,6 134,4 173,4 90,1 97,5 103,4
6. Perdagangan, hotel, dan restoran 337,8 372,3 429,9 256,3 271,2 294,4
7. Pengangkutan dan komunikasi 118,3 140,6 181,0 85,0 95,8 109,4
8. Keuangan, persewaan, dan 174,3 194,5 228,1 140,1 150,9 162,0
jasa perusahaan
9. Jasa-jasa 198,1 234,3 275,6 144,4 151,5 160,0
PDB 2.045,9 2.303,0 2.729,7 1.579,6 1.660,6 1.749,5
Dalam perhitungan GDP ada beberapa kegiatan produksi yang tidak
masuk dalam perhitungan. Beberapa kegiatan tersebut sebagai berikut.
a. Pembayaran transfer/pindahan, yaitu pemindahan sejumlah uang
dari kantong yang satu ke kantong yang lain tanpa disertai produksi.
Misalnya pembayaran pensiun, subsidi, undian, bunga atas utang
negara, hadiah, warisan, dan sumbangan bencana alam.
b. Kenaikan dan penurunan nilai barang-barang modal karena inflasi
atau depresiasi. Transaksi saham dan obligasi juga tidak
diperhitungkan dalam GDP karena tidak berhubungan dengan
produksi baru.
c. Kegiatan-kegiatan ilegal, antara lain penyelundupan barang-barang
dagang, produksi ganja, dan heroin, serta kegiatan-kegiatan
terlarang lainnya.
Sumber: Dokumen Penerbit
Gambar 7.2
Kegiatan ibu rumah tangga seperti memasak
untuk keluarga tidak masuk dalam perhitungan
pendapatan nasional.
d. Perdagangan barang-barang bekas, yang
berarti tidak ada penciptaan produk baru.
Misalnya Anda membeli komputer bekas,
sepeda bekas, dan lain sebagainya. Yang
masuk dalam perhitungan pendapatan
nasional adalah produksi baru.
e. Kegiatan-kegiatan yang memang tidak
dihitung, misalnya jasa ibu rumah tangga
yang mencuci pakaian, memasak, dan
membersihkan rumah. Akan tetapi, apabila
ibu rumah tangga tersebut mencucikan
pakaian ke tukang cuci serta membayar
upahnya, maka perbuatan tersebut dihitung
dalam perhitungan sektor jasa.
Pendapatan Nasional 203
2. Pendekatan Pengeluaran
Di negara-negara yang perekonomiannya maju, seperti Amerika
Serikat, Inggris, dan Jerman, pendekatan yang sering digunakan adalah
dengan metode pengeluaran. Cara tersebut lebih dapat memberikan
keterangan-keterangan mengenai tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai.
Keterangan-keterangan tersebut menggambarkan masalah ekonomi
suatu negara atau tingkat pertumbuhan yang dicapai dan tingkat
kemakmuran yang sedang dinikmati.
Ada empat unit ekonomi yang digunakan dalam perhitungan
pendapatan nasional dengan cara pengeluaran, yaitu:
a. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
Nilai belanja atau pengeluaran yang
dilakukan rumah tangga konsumen untuk
membeli berbagai jenis kebutuhan dalam
satu tahun tertentu disebut pengeluaran konsumsi
rumah tangga dan ditulis dengan huruf
C (consumption).
Pendapatan yang diterima oleh rumah
tangga akan digunakan untuk membeli
makanan, pakaian, membayar jasa angkutan,
membiayai pendidikan anak, membeli kendaraan,
dan sebagainya. Akan tetapi, tidak
semua transaksi yang dilakukan oleh rumah
tangga digolongkan sebagai konsumsi, misalnya
pengeluaran untuk membeli rumah
digolongkan sebagai investasi (I).
b. Pengeluaran Pemerintah
Pemerintah membeli barang terutama
untuk kepentingan masyarakat, misalnya
pengeluaran untuk menyediakan fasilitas
pendidikan dan kesehatan, untuk membayar
gaji pegawai pemerintah, membayar polisi
dan tentara, serta pengeluaran untuk mengembangkan
sarana dan prasarana. Semua
pengeluaran tersebut dimasukkan ke dalam
pengeluaran pemerintah dan ditulis dengan
huruf G (government expenditure).
Memberi beasiswa, bantuan korban
bencana alam, dan subsidi-subsidi pemerintah
tidak dimasukkan sebagai pengeluaran
pemerintah atas pendapatan nasional, karena pengeluaran itu
bukan untuk membeli barang dan jasa, melainkan pembayaran
transfer.
Sumber: Dokumen Penerbit
Gambar 7.3
Membayar jasa angkutan dan membeli kendaraan
termasuk pengeluaran rumah tangga.
Sumber: Dokumen Penerbit
Gambar 7.4
Salah satu pengeluaran pemerintah adalah untuk
membayar gaji polisi.
204 EKONOMI Kelas X
c. Investasi
Investasi (I = investment) atau pembentukan modal sektor
swasta adalah pengeluaran untuk membeli barang modal yang dapat
menaikkan produksi barang dan jasa di masa akan datang. Contoh
investasi ini antara lain membeli mesin, peralatan produksi,
membangun gedung perkantoran, dan mendirikan bangunan pabrik.
Sekarang Anda pasti paham kalau investasi merupakan pengeluaran
yang dilakukan bukan untuk dikonsumsi, melainkan untuk digunakan
dalam kegiatan memproduksi di waktu mendatang.
Pada dasarnya, investasi dibedakan atas tiga jenis pengeluaran
sebagai berikut.
1) Pengeluaran untuk barang modal dan peralatan produksi.
2) Perubahan-perubahan dalam nilai investasi pada akhir tahun.
3) Pengeluaran-pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat
tinggal.
d. Ekspor Neto
Nilai ekspor (X = export) yang dilakukan suatu negara dalam tahun
tertentu dikurangi nilai impor (M = import) dalam periode yang sama
dinamakan ekspor neto (X – M). Ekspor suatu negara biasanya terdiri
atas barang-barang dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri. Oleh
sebab itu, nilainya harus dihitung ke dalam pendapatan nasional.
Bagaimana dengan impor? Barang impor merupakan produksi
masyarakat negara lain sehingga tidak perlu dihitung dalam
pendapatan nasional. Yang perlu dihitung ke dalam pendapatan
nasional hanyalah ekspor neto, yaitu ekspor setelah dikurangi
dengan impor.
Pengembangan UKM Ekspor
Pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) tidak akan banyak
artinya bila tidak mempertimbangkan lingkungan strategis yang terkait
dengan pengembangan usaha UKM itu sendiri. Diperlukan cara pandang
yang lebih luas dalam pengembangan UKM, khususnya dalam memperkecil
kendala dan hambatan yang dihadapinya. Oleh karena itu, upaya
pengembangan UKM tidak hanya bisa dilaksanakan secara parsial,
melainkan harus terintegrasi dan simultan dengan unit/instansi/lembaga
terkait dan dilaksanakan secara berkesinambungan.
Salah satu kendala yang dihadapi oleh UKM ekspor saat ini adalah
kesulitan memperoleh informasi pemasaran dan pembeli di luar negeri.
Sehubungan dengan itu, peran Badan Pengembangan Ekspor Nasional
(BPEN) dalam mempromosikan produk-produk ekspor nonmigas menjadi
sangat penting, terutama untuk memasarkan produk-produk UKM ekspor.
Pendapatan Nasional 205
BPEN memberikan pelayanan informasi dan promosi ekspor untuk
meningkatkan kemampuan UKM memasuki pasar internasional dengan
produk-produk yang bermutu dan harga yang bersaing. Untuk itu, BPEN
memberikan pembinaan untuk menunjang promosi UKM serta meningkatkan
kualitas SDM dalam mempromosikan produk mereka ke pasar
internasional.
Perusahaan UKM yang akan dibina harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut: mempunyai syarat administrasi dan hukum sebagai badan
usaha, UKM produsen, produknya berpotensi ekspor, memiliki kemampuan
suplai, memiliki kekayaan tidak lebih dari Rp 200 juta (tidak termasuk tanah
dan bangunan), perusahaan yang berdiri sendiri (bukan anak perusahaan
cabang atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan
perusahaan besar), perusahaan milik warga negara Indonesia (WNI), nilai
penjualan tidak melebihi Rp1,2 miliar per tahun, perusahaan tidak
bermasalah dengan hukum dan diutamakan perusahaan yang pernah
memperoleh penghargaan.
Sumber: www.nafed.go.id
Perhitungan pendapatan nasional dengan metode pengeluaran
dalam perekonomian terbuka dapat dirumuskan sebagai berikut.
Y = C + I + G + (X – M)
Keterangan:
Y : National Income (Pendapatan Nasional).
C : Consumption (pengeluaran konsumsi rumah tangga).
I : Investment (pembentukan modal sektor swasta).
G : Government Expenditure (pengeluaran pemerintah).
X : Export
M : Import
Perhatikan contoh berikut!
Berikut ini data yang diperlukan dalam perhitungan pendapatan nasional.
Konsumsi Rp27.500.000,00
Investasi/pengeluaran swasta Rp39.000.000,00
Pengeluaran pemerintah Rp13.500.000,00
Ekspor Rp 9.000.000,00
Impor Rp 6.500.000,00
Dengan menggunakan rumus di atas, maka perhitungannya adalah:
Y = C + I + G + (X – M)
= Rp27.500.000,00 + Rp39.000.000,00 + Rp13.500.000,00 +
(Rp9.000.000,00 – Rp6.500.000,00)
Y = Rp82.500.000,00
Berikut ini tabel data produk domestik bruto Indonesia tahun 2003
hingga 2005 dengan menggunakan pendekatan pengeluaran yang
dihitung oleh Badan Pusat Statistik.
206 EKONOMI Kelas X
Sumber: www.bps.go.id
Tabel 7.2 Nilai PDB Menurut Pengeluaran Tahun 2003 Hingga 2005
No. Komponen Penggunaan
Atas Dasar Atas Dasar
Harga Berlaku Harga Konstan 2000
(Triliun Rupiah) (Triliun Rupiah)
2003 2004 2005 2003 2004 2005
1. Konsumsi rumah tangga 1.372,08 1.532,39 1.785,6 956,59 1.003,81 1.043,8
2. Konsumsi pemerintah 163,70 187,77 225,0 121,40 123,77 136,4
3. Pembentukan modal tetap bruto 386,22 483,44 599,8 310,78 359,60 389,8
4. a. Perubahan investasi -26,17 40,90 7,2 -4,71 39,98 4,3
b. Statistik diskrepansi -6,04 -33,07 -6,2 16,74 10,99 48,5
5. Ekspor 627,06 711,78 915,6 612,56 664,46 739,0
6. Dikurangi impor 471,00 620,18 797,3 433,81 542,04 612,3
Produk Domestik Bruto 2.045,85 2.303,03 2.729,7 1.579,55 1.660,57 1.749,5
3. Pendekatan Pendapatan
Pasti Anda pernah mempelajari tentang faktor produksi bukan? Coba
sebutkan ada berapa macam faktor produksi tersebut. Ya, tepat sekali.
Faktor produksi ada empat kelompok, yaitu tenaga kerja, tanah, modal,
dan kewirausahaan/pengusaha. Apabila faktor-faktor produksi tersebut
digunakan dalam proses produksi, mereka akan memperoleh
pendapatan berupa balas jasa.
Bentuk-bentuk balas jasa dari faktor produksi tersebut adalah:
a. Balas jasa dari tenaga kerja berupa upah dan gaji.
b. Tanah dan harta tetap lainnya memperoleh sewa.
c. Modal memperoleh bunga.
d. Kewirausahaan/pengusaha memperoleh keuntungan/laba.
Dari penjumlahan pendapatan-pendapatan tadi akan diperoleh nilai
pendapatan nasional yang berbeda dengan nilai pendapatan nasional
berdasarkan kedua pendekatan lainnya. Pendapatan nasional dengan
menjumlahkan balas jasa faktor produksi disebut produk nasional
menurut harga faktor. Dengan demikian, menurut pendekatan
pendapatan, pendapatan nasional merupakan balas jasa yang diterima
oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu
negara selama satu tahun, yang dihitung dengan rumus:
NI = W + R + I + ��
Keterangan:
NI : National Income (Pendapatan Nasional).
W : Wages (upah pekerja).
R : Rent (sewa tanah).
I : Interest (bunga modal).
�� : Profit (laba pengusaha).
208 EKONOMI Kelas X
Selain pendapatan nasional, perhitungan PDB juga bisa digunakan
untuk menghitung pendapatan di provinsi-provinsi atau bahkan
kabupaten-kabupaten yang berupa Pendapatan Domestik Regional
Bruto (PDRB). Dengan demikian, diharapkan susunan perekonomian
suatu provinsi juga dapat dianalisis strukturnya.
2. Membandingkan Kemajuan Perekonomian dari Waktu
ke Waktu
Data tentang pendapatan nasional biasanya dibuat setiap tahun,
sehingga dapat digunakan untuk membandingkan perekonomian suatu
negara dari tahun ke tahun. Perbandingan tersebut diharapkan dapat
memberikan informasi sebagai berikut.
a. Ada tidaknya kenaikan dan penurunan aktivitas perekonomian.
b. Ada tidaknya perubahan struktur ekonomi.
c. Pertambahan atau pengurangan kemakmuran materiil.
d. Kenaikan atau penurunan pendapatan per kapita berdasarkan
jumlah penduduknya.
e. Pertambahan ataupun penurunan jumlah dan jenis lapangan kerja.
Dengan membandingkan GDP/GNP suatu tahun dengan tahun
sebelumnya dapat kita peroleh tingkat pertumbuhan ekonomi negara
itu.
3. Membandingkan Perekonomian Antarnegara/Antardaerah
Data perhitungan pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk
membandingkan perekonomian suatu negara dengan negara lain dan
antara daerah/provinsi dengan provinsi/daerah lain. Perbandingan ini
berguna untuk menilai seberapa jauh ketertinggalan atau kemajuan
suatu negara dibandingkan dengan negara lain atau suatu daerah
dengan daerah lain. Namun, dengan membandingkan pendapatan
nasional (GNP/GDP) antara satu negara dengan negara lain dapat
menyesatkan kesimpulan yang kita ambil. Tidak berarti negara A yang
lebih besar pendapatan nasionalnya dibandingkan negara B,
menunjukkan bahwa rakyat di negara A lebih makmur dibandingkan
rakyat di negara B, tetapi harus dilihat jumlah penduduk di masingmasing
negara itu. Oleh karena itu, untuk membandingkan perekonomian
antarnegara yang dilihat adalah pendapatan per kapitanya.
Pendapatan Nasional 209
Perhitungan pendapatan nasional memang dapat digunakan untuk
membandingkan perekonomian antarnegara. Tetapi, angka pendapatan
nasional ini ternyata kurang memberi gambaran yang lebih terperinci
tentang kondisi kemakmuran negara. Mengapa demikian? Faktor-faktor
apa lagi yang harus diperhatikan untuk mengukur perbandingan
antarwilayah ini?
4. Merumuskan Kebijakan Pemerintah
Perhitungan pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk
membantu merumuskan kebijakan pemerintah.
Contoh:
a. Apabila pemerintah menginginkan pertumbuhan PDB, maka
perhitungan pendapatan nasional inilah yang harus dilihat. Proporsi
masing-masing sektor yang harus diperhatikan.
b. Jika terlihat sektor pertanian dalam subsektor tanaman bahan
makanan meningkat, maka pemerintah dapat menentukan kebijakan
pengadaan pangan. Misalnya saja, dapat atau tidak bahan makanan
disediakan dari produksi dalam negeri dan seberapa besar yang
masih harus diimpor.
c. Berdasarkan pertambahan pendapatan per kapita, pemerintah juga
dapat menentukan gambaran kebijakan kependudukan dan
penggunaan dana investasi.
D. PDB dan Pendapatan Per Kapita di Beberapa
Negara
Masalah yang biasa dihadapi oleh setiap pemerintahan di dunia
adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Hal ini
bukan pekerjaan mudah tentunya, apalagi bagi negara-negara berkembang
seperti Indonesia. Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah
untuk bisa meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, tetapi banyak kendala
yang harus dihadapi. Peningkatan kesejahteraan rakyat ini tetap menjadi
prioritas utama bagi sebagian negara berkembang termasuk Indonesia.
Peningkatan kesejahteraan rakyat harus dilaksanakan melalui
pembangunan, terutama pembangunan di bidang ekonomi.
210 EKONOMI Kelas X
Pembangunan di bidang ekonomi harus
dilakukan secara menyeluruh di berbagai sektor.
Indonesia memang dikenal dengan sektor agraris
yang menjadi tumpuan hidup rakyatnya. Tetapi
usaha peningkatan pendapatan per kapita tidak
hanya dilaksanakan melalui sektor pertanian
saja, melainkan melalui segala sektor seperti perdagangan,
industri, dan jasa. Untuk sektor
pertanian misalnya, usaha peningkatannya
dilakukan melalui mekanisasi pertanian. Sedangkan
untuk sektor industri dan perdagangan,
sampai saat ini pemerintah terus-menerus
melakukan perbaikan sistem investasi agar
meningkatkan hasil produksi industri kita.
Pembangunan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi di segala
sektor akan mengakibatkan bertambahnya nilai PDB. Jika nilai PDB
meningkat, maka pendapatan per kapita masyarakat juga akan naik.
Bertambahnya pendapatan per kapita berarti meningkat pula
kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Seperti tadi telah
dibahas bahwa besarnya pendapatan per kapita juga tergantung pada
jumlah penduduk, maka pemerintah terus berusaha untuk menekan
pertumbuhan penduduk antara lain melalui program keluarga berencana
(KB).
Angka PDB ternyata belum memadai sebagai tolok ukur taraf hidup.
Hal ini karena kita belum mengetahui berapa jumlah masyarakat yang
ikut menghasilkan PDB tersebut. Selain itu, tidak diketahui pula banyaknya
manusia yang harus hidup dari PDB itu. Oleh karena itu, ukuran
yang sering dipakai untuk membandingkan taraf hidup di beberapa
negara adalah pendapatan per kapita.
Sumber: www.mekanisasi.litbang.deptan.go.id
Gambar 7.6
Mekanisasi pertanian dilakukan untuk meningkatkan
produksi.
Agar Anda semakin paham tentang gambaran kesejahteraan rakyat
Indonesia, carilah data PDB dan jumlah penduduk Indonesia. Hitunglah
pendapatan per kapita Indonesia lima tahun terakhir. Cara perhitungan
pendapatan per kapita dapat Anda lihat pada pembahasan bab
sebelumnya. Berikan komentar Anda tentang data tersebut. Jika Anda
kesulitan mencari data, Anda bisa melakukan kunjungan ke BPS di daerah
Anda. Di sana akan tersedia data yang Anda perlukan tadi.
Untuk membandingkan pendapatan per kapita antarnegara, maka
pendapatan per kapita setiap negara dinyatakan dalam dolar Amerika
Serikat (US$). Selain itu, agar dapat menggambarkan perkembangan
Pendapatan Nasional 211
kemakmuran masyarakat, maka pendapatan per kapita dihitung
berdasarkan harga tetap (konstan). Masyarakat dinilai mengalami
pertambahan kemakmuran apabila pendapatan per kapita menurut
harga tetap atau pendapatan riil terus bertambah.
Sekarang, bagaimana pendapatan per kapita negara kita jika
dibandingkan dengan pendapatan per kapita dari negara-negara lain?
Harus kita akui bahwa pembangunan di Indonesia sebenarnya masih
kalah cepat dari negara tetangga kita seperti Malaysia atau Thailand.
Apalagi dengan adanya resesi ekonomi tahun 1998 yang telah
menurunkan kinerja perekonomian negara kita dan sebagian kemajuan
yang sebelumnya telah kita raih dengan susah payah. Akibatnya, tidak
hanya Thailand dan Malaysia yang sulit terkejar, negara yang tidak
terkena krisis seperti Cina juga makin jauh melampaui Indonesia.
Tahukah Anda, untuk menunjukkan golongan pendapatan per kapita
di berbagai negara, untuk tahun 2004 Bank Dunia membedakan ke
dalam empat kategori berikut.
1. Golongan negara dengan pendapatan rendah (low income
countries), yaitu kelompok negara yang memiliki pendapatan kurang
dari US$875.
2. Golongan negara dengan pendapatan menengah yang rendah (low
middle-income countries), yaitu kelompok negara yang memiliki
pendapatan per kapita antara US$876–US$3,465.
3. Golongan negara dengan pendapatan menengah yang tinggi (upper
middle-income countries), yaitu kelompok negara yang memiliki
pendapatan per kapita antara US$3,466–US$10,725.
4. Golongan negara kaya (high income countries), yaitu kelompok
negara yang memiliki pendapatan per kapita US$10,726 atau lebih.
Agar Anda memperoleh gambaran yang jelas mengenai perbandingan
pendapatan per kapita di beberapa negara, perhatikan tabel
berikut.
Tabel 7.3 Pendapatan Per Kapita di Berbagai Negara, Tahun 2005
Negara
Pendapatan Per
Kapita (US$)
A. Negara Pendapatan
Rendah
1. Republik Kongo 120
2. Liberia 130
3. Etiopia 160
4. Tajikistan 330
5. Afrika Tengah 350
6. Kampuchea 380
7. Bangladesh 470
8. Vietnam 620
9. Pakistan 690
10. India 720
Negara
Pendapatan Per
Kapita (US$)
B. Negara Pendapatan
Menengah yang Rendah
1. Sri Lanka 1,160
2. Mesir 1,250
3. Indonesia 1,280
4. Filipina 1,300
5. Cina 1,740
6. Kolombia 2,290
7. Bosnia dan Herzegovina 2,440
8. Thailand 2,750
9. Bulgaria 3,450
10. Brasil 3,460
Pendapatan Nasional 207
Perhatikan contoh berikut!
Diketahui : Upah dan gaji = Rp6.700.000,00
Sewa tanah = Rp5.100.000,00
Bunga modal = Rp4.700.000,00
Keuntungan = Rp3.750.000,00
Diminta : Hitunglah pendapatan nasional dengan menggunakan
pendekatan pendapatan!
Dengan menggunakan pendekatan pendapatan, besarnya pendapatan
nasional adalah:
NI = W + R + I + ��
= Rp6.700.000,00 + Rp5.100.000,00 + Rp4.700.000,00 +
Rp3.750.000,00
NI = Rp20.250.000,00
Secara konseptual ketiga pendekatan tersebut akan memberikan
hasil yang sama. Dengan demikian, jumlah pengeluaran akan sama
dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama
pula dengan jumlah balas jasa untuk faktor-faktor produksi. Untuk
sementara ini, Indonesia baru menggunakan pendekatan pengeluaran
dan produksi.
C. Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional
Setelah Anda belajar tentang pendapatan nasional, tentu Anda bisa
merasakan manfaatnya, bukan? Yang pasti pengetahuan Anda makin
bertambah. Tetapi apakah hanya itu saja? Tentu tidak, banyak manfaat
atau kegunaan dari perhitungan pendapatan nasional ini, apalagi untuk
suatu negara. Apa sajakah itu? Berikut akan dibahas satu per satu.
1. Mengetahui dan Menelaah Susunan atau Struktur
Perekonomian
Dari hasil perhitungan pendapatan nasional,
suatu negara dapat digolongkan sebagai negara
pertanian, industri, atau jasa. Dapat ditentukan
pula besarnya sektor-sektor industri, pertanian,
jasa, pertambangan, dan lain-lain. Termasuk
negara apakah Indonesia, agraris atau maritim,
jasa atau industri? Sektor apakah yang memberi
kontribusi terbesar dalam PDB Indonesia?
Tiap-tiap sektor dan subsektor dalam PDB
menghasilkan barang dan jasa. Jumlah barang
dan jasa yang dihasilkan dalam satu tahun inilah
yang dihitung menjadi pendapatan nasional. Dari
perincian sektor-sektor dan subsektor-subsektor tersebut, kita dapat
mengetahui sumbangan masing-masing terhadap pendapatan nasional
seluruhnya.
Sumber: Dokumen Penerbit
Gambar 7.5
Sektor pertambangan merupakan salah satu
sektor andalan negara.
212 EKONOMI Kelas X
Negara
Pendapatan Per
Kapita (US$)
C. Negara Pendapatan
Menengah yang Tinggi
1. Dominika 3,790
2. Argentina 4,470
3. Malaysia 4,960
4. Chili 5,870
5. Lebanon 6,180
6. Polandia 7,110
7. Meksiko 7,310
8. Kroasia 8,060
9. Hongaria 10,030
10. Republik Cheznia 10,710
Negara
Pendapatan Per
Kapita (US$)
D. Negara Pendapatan
Tinggi
1. Korea 15,830
2. New Zealand 25,960
3. Singapura 27,490
4. Italia 30,010
5. Prancis 34,810
6. Belanda 36,620
7. Inggris 37,600
8. Jepang 38,980
9. Amerika 43,740
10. Luksemburg 65,630
Sumber: www.worldbank.org
Tabel 7.3 menunjukkan tingkat pendapatan per
kapita di empat golongan. Di setiap golongan
negara ditunjukkan sepuluh negara disertai dengan
data pendapatan per kapita untuk tahun 2005.
Negara yang rendah pendapatan per kapitanya
adalah Republik Kongo dengan pendapatan
sebesar US$120. Data tersebut tiap tahun pasti
berubah. Agar Anda tidak tertinggal, update lah data
tersebut melalui www.worldbank.org.
Nah, bagaimana dengan Indonesia? Pada
tahun 2005 Indonesia masih berada pada
kelompok negara berpendapatan menengah
rendah. Pendapatan per kapita yang diterima
penduduk Indonesia sebesar US$1,280, sangat
minim untuk berada di kategori negara berpendapatan
menengah rendah. Satu kelompok
dengan negara kita adalah Sri Lanka, Filipina,
Cina, Mesir, dan Thailand. Sedangkan negara
tetangga kita Malaysia berada pada kelompok
negara berpendapatan menengah tinggi dengan
pendapatan per kapita sebesar US$4,960.
Negara yang satu kelompok dengan Malaysia ini
antara lain Arab Saudi dan Meksiko. Sedangkan
kelompok berpendapatan tinggi antara lain Korea
Selatan, Singapura, Inggris, Jepang, dan Amerika
Serikat.
Sumber: www.mnnonline.org
Gambar 7.7
Salah satu daerah di Etiopia, sebuah negara
dengan tingkat pendapatan per kapita yang
rendah.
Sumber: www.singapore.nomadilife.org
Gambar 7.8
Negara Singapura, sebuah negara yang mempunyai
tingkat pendapatan yang tinggi.
Pendapatan Nasional 213
Perlu Anda ketahui bahwa pengelompokan
itu tidaklah bersifat tetap, namun akan terus
berubah setiap tahun, sesuai dengan kemajuan
perekonomian yang dicapai tiap negara. Jika
suatu negara terus membangun negaranya
dengan giat dan didukung kondisi politik yang
stabil, tidak mustahil bahwa negara tersebut bisa
naik menjadi negara dengan pendapatan tinggi.
Selain itu, jumlah penduduk ternyata
menentukan tingkat pendapatan per kapita di
negara bersangkutan. Pada umumnya negara
yang jumlah penduduknya relatif banyak maka
pendapatan per kapitanya juga relatif rendah. Sebut saja Bangladesh,
India, Pakistan, Cina, dan Indonesia. Untuk itu, banyak upaya yang
dilakukan negara-negara berkembang ini dalam mengurangi jumlah
penduduknya, misalnya Indonesia dengan program keluarga berencana.
Sumber: www.mediaindo.co.id
Gambar 7.9
Kerusuhan dan kondisi politik yang tidak stabil
tidak akan mendukung peningkatan pendapatan.
Hampir sebagian besar negara berkembang terus berupaya mengejar
ketertinggalannya dengan negara-negara maju. Sebut saja negara Cina,
Korea, dan Malaysia, tidak ketinggalan adalah negara kita Indonesia yang
terus-menerus membenahi perekonomiannya. Diskusikan dengan teman
kelompok Anda bagaimana usaha-usaha yang dilakukan negara
berkembang ini untuk meningkatkan pendapatannya! Presentasikan hasil
diskusi Anda di depan kelas!
E. Inflasi dan Indeks Harga
Anda telah mempelajari tentang beberapa masalah pembangunan. Salah
satu masalah tersebut adalah inflasi. Anda akan mengenal lebih dalam
tentang inflasi.
1. Inflasi
Kenaikan harga barang dapat bersifat sementara atau berlangsung
terus-menerus. Ketika kenaikan tersebut berlangsung dalam waktu yang
lama dan terjadi hampir pada seluruh barang dan jasa maka gejala ini
disebut inflasi. Jadi, kenaikan harga pada satu atau dua jenis barang
tidak dapat dikategorikan sebagai inflasi.
Dengan demikian, inflasi (inflation) adalah kenaikan harga barangbarang
yang bersifat umum dan terus-menerus. Lawan dari inflasi adalah
deflasi (deflation), yaitu kondisi di mana tingkat harga mengalami
penurunan terus-menerus.
214 EKONOMI Kelas X
Dari penjelasan di depan, ada tiga komponen yang menjadi indikasi
kenaikan harga hingga dikategorikan sebagai inflasi, yaitu adanya
kenaikan harga, kenaikan harga tersebut bersifat umum dan berlangsung
terus-menerus.
Harga lengkeng jika sedang musimnya Rp8.000,00 per kilogram. Namun,
jika belum musim bisa mencapai Rp20.000,00 per kilogram. Kenaikan harga
lengkeng yang sangat tajam ini tidak bisa mendorong terjadinya inflasi.
Keadaannya berbeda ketika yang mengalami kenaikan adalah harga bahan
bakar minyak atau tarif dasar listrik. Kenaikan kedua komoditas tersebut
dapat memicu terjadinya inflasi. Mengapa demikian? Diskusikanlah dengan
teman kelompok Anda dan sampaikan hasilnya pada diskusi kelas.
a. Jenis-Jenis Inflasi
Jenis-jenis inflasi dapat dibedakan menjadi:
1) Berdasarkan Tingginya Inflasi
Berdasarkan tingginya inflasi per tahun, inflasi digolongkan
menjadi inflasi ringan (di bawah 10% per tahun), sedang (10%
hingga 25%), berat (25% hingga 100%), dan hiperinflasi (lebih
dari 100%).
2) Berdasarkan Sumber Penyebab
Berdasarkan sumber penyebabnya, inflasi digolongkan menjadi
inflasi tekanan permintaan (demand full inflation) dan inflasi
dorongan biaya (cost push inflation). Inflasi tekanan permintaan
terjadi karena meningkatnya permintaan atau pembelian
masyarakat terhadap barang dan jasa. Sedangkan inflasi
dorongan biaya bersumber dari kenaikan biaya produksi,
misalnya kenaikan harga bahan baku, energi, atau upah pekerja.
Inflasi juga dapat terjadi karena kedua sebab tersebut (inflasi
campuran).
3) Berdasarkan Asalnya
Berdasarkan asalnya, inflasi digolongkan menjadi inflasi dari
dalam negeri (domestic inflation) dan inflasi dari luar negeri
(imported inflation).
Pendapatan Nasional 215
b. Teori-Teori Inflasi
Gejala-gejala inflasi dapat dijelaskan dengan teori-teori inflasi.
1) Kuantitas
Teori kuantitas tergolong teori inflasi
yang paling awal. Meskipun demikian,
masih bisa digunakan untuk menjelaskan
proses inflasi pada zaman modern saat
ini. Teori ini dipelopori oleh Irving Fisher.
Teori ini menekankan bahwa inflasi
dipengaruhi oleh pertambahan jumlah
uang beredar dan anggapan masyarakat
terhadap kenaikan harga-harga (faktor
psikologis).
Menurut teori kuantitas, apabila
penawaran uang bertambah maka
tingkat harga umum juga akan naik.
Hubungan langsung antara harga dan
kuantitas uang seperti yang digambarkan
oleh teori kuantitas uang sederhana
dapat digunakan untuk menerangkan
situasi inflasi.
2) Teori Keynes
Menurut Keynes, inflasi terjadi
karena ada sebagian masyarakat yang
ingin hidup di luar batas kemampuan
ekonominya. Proses inflasi merupakan
proses perebutan bagian rezeki di antara
kelompok-kelompok sosial yang menginginkan
bagian lebih besar dari yang
bisa disediakan oleh masyarakat tersebut.
Proses perebutan ini terlihat pada
keadaan di mana permintaan masyarakat
terhadap barang-barang selalu
melebihi jumlah barang yang tersedia.
Hal ini menimbulkan apa yang disebut
celah inflasi atau inflationary gap.
Celah inflasi timbul karena golongangolongan
masyarakat berhasil mewujudkan
keinginan mereka menjadi permintaan
efektif (permintaan berdaya beli) terhadap barang-barang
dan jasa. Golongan masyarakat tersebut adalah pemerintah,
pengusaha, dan serikat pekerja. Pemerintah berusaha
memperoleh pendapatan yang besar dengan cara mencetak
Sumber: www.library.vanderbilt
Gambar 7.10
Irving Fisher
Sumber: www.athome.comcast.net
Gambar 7.11
John Maynard Keynes
216 EKONOMI Kelas X
uang baru. Pengusaha melakukan investasi dengan modal yang
diperoleh dari kredit bank. Sedangkan pekerja berusaha
memperoleh kenaikan upah/gaji agar bisa lebih banyak membeli
barang dan jasa. Inflasi akan terus berlangsung selama jumlah
permintaan efektif dari semua golongan masyarakat tersebut
melebihi jumlah output yang dihasilkan.
3) Teori Strukturalis
Teori strukturalis disusun berdasarkan pada pengalaman
di negara-negara Amerika Latin. Teori ini memberikan perhatian
besar terhadap struktur perekonomian di negara berkembang.
Inflasi di negara berkembang terutama disebabkan oleh faktorfaktor
struktur ekonominya. Menurut teori ini, kondisi struktur
ekonomi negara berkembang yang dapat menimbulkan inflasi
adalah:
a) Ketidakelastisan Penerimaan Ekspor
Nilai ekspor di negara berkembang tumbuh secara
lamban dibandingkan pertumbuhan sektor-sektor lain.
Adapun penyebabnya adalah harga produk-produk
pertanian yang tidak stabil atau rendah dan produksi
barang-barang ekspor tidak mampu mengikuti perubahan
harga.
b) Ketidakelastisan Penawaran atau Produksi Makanan di
Dalam Negeri
Produksi bahan makanan dalam negeri tidak tumbuh
secepat pertambahan penduduk dan pendapatan per
kapita. Hal ini menyebabkan harga bahan makanan di dalam
negeri cenderung naik, sehingga melebihi kenaikan harga
barang-barang lain. Dampak yang ditimbulkan adalah
munculnya tuntutan karyawan untuk mendapat kenaikan
upah atau gaji. Naiknya upah karyawan menyebabkan
kenaikan ongkos produksi. Hal ini berarti akan menaikkan
harga barang-barang. Kenaikan harga barang-barang
tersebut mengakibatkan munculnya kenaikan upah lagi.
Kenaikan upah kemudian diikuti oleh kenaikan harga
barang-barang, begitu seterusnya.
c. Proses Terjadinya Inflasi di Indonesia
Bagaimana cara kita menjelaskan proses terjadinya inflasi di
Indonesia? Seperti Anda ketahui, inflasi timbul karena adanya
tekanan dari sisi penawaran (cost push inflation), dari sisi permintaan
(demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Cost push inflation
dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi
Pendapatan Nasional 217
luar negeri terutama negara-negara mitra dagang, peningkatan
harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price),
dan terjadi kekurangan penurunan akibat bencana alam dan
terganggunya distribusi.
Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya
permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaan (output
gap). Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh
output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total
(aggregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian.
Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku
masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat
adaptif. Hal ini tercermin dari pembentukan harga di tingkat produsen
dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar
keagamaan dan penentuan upah minimum regional (UMR).
Agar lebih jelas, perhatikan bagan berikut.
Dari bagan di atas, kita dapat mengelompokkan inflasi di
Indonesia menjadi dua macam, yaitu:
1) Inflasi Inti
Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh faktor fundamental, yaitu:
a) Interaksi permintaan-penawaran.
b) Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditas
internasional, inflasi mitra dagang.
c) Ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen.
Sumber: Bank Indonesia
Gambar 7.12
Diagram inflasi
218 EKONOMI Kelas X
2) Inflasi Non-Inti
Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh selain faktor fundamental.
Dalam hal ini terdiri atas:
a) Inflasi Volatile Foods
Inflasi yang dipengaruhi shocks dalam kelompok bahan
makanan seperti panen, gangguan alam, gangguan
penyakit.
b) Inflasi Administered Prices
Inflasi yang dipengaruhi shocks berupa kebijakan harga
pemerintah, seperti harga BBM, tarif listrik, tarif angkutan,
dan lain-lain.
d. Dampak Inflasi terhadap Kegiatan Ekonomi
Inflasi mempunyai dampak terhadap individu maupun bagi
kegiatan perekonomian secara luas. Dampak yang ditimbulkan dapat
bersifat negatif ataupun positif, tergantung pada tingkat keparahannya.
Laju inflasi yang terlalu tinggi akan mengganggu pertumbuhan
ekonomi dan menyengsarakan masyarakat yang berpenghasilan
tetap dan rendah.
Berikut ini adalah dampak yang ditimbulkan oleh inflasi.
1) Dampak Positif
Pengaruh positif inflasi terjadi apabila tingkat inflasi masih
berada pada persentase tingkat bunga kredit yang berlaku.
Misalnya, pada saat itu tingkat bunga kredit adalah 15% per
tahun dan tingkat inflasi 5%. Bagi negara maju, inflasi seperti
ini akan mendorong kegiatan ekonomi dan pembangunan.
Mengapa demikian? Hal ini terjadi, karena para pengusaha/
wirausahawan di negara maju dapat memanfaatkan kenaikan
harga untuk berinvestasi, memproduksi, serta menjual barang
dan jasa.
2) Dampak Negatif
Inflasi yang terlalu tinggi membawa dampak yang tidak
sedikit terhadap perekonomian, terutama tingkat kemakmuran
masyarakat. Dampak inflasi tersebut, antara lain:
a) Dampak Inflasi terhadap Pemerataan Pendapatan
Inflasi akan merugikan orang yang berpendapatan
tetap, seperti pensiunan dan pegawai negeri. Kerugian lain
akibat inflasi juga akan dialami oleh mereka yang
menyimpan kekayaan dalam bentuk uang kas (uang tunai)
atau mereka yang menyimpan uang kas di rumah
(hoarding).
Pendapatan Nasional 219
Adapun pihak-pihak yang mendapat
keuntungan dengan adanya
inflasi adalah orang yang persentase
kenaikan pendapatannya melebihi
persentase kenaikan inflasi, mereka
yang memiliki kekayaan dalam
bentuk barang atau emas, dan buruh
yang tergabung dalam serikat pekerja
yang kuat, sehingga mereka
dapat menuntut kenaikan upah
melebihi kenaikan laju inflasi.
Apa yang dapat Anda simpulkan
dari penjelasan di atas? Ternyata,
inflasi memberi dampak yang berbeda.
Ada masyarakat yang diuntungkan
dan ada pula yang
dirugikan, maka dengan adanya
inflasi, kesenjangan pendapatan
masyarakat akan semakin terlihat.
b) Dampak Inflasi terhadap Output (Hasil Produksi)
Dampak inflasi terhadap hasil produksi akan terjadi dua
kemungkinan, yaitu bisa meningkatnya hasil produksi.
Dalam keadaan inflasi, biasanya kenaikan harga barang
mendahului upah/gaji, sehingga keuntungan yang diperoleh
para pengusaha akan meningkat.
c) Mendorong Penanaman Modal Spekulatif
Inflasi menyebabkan para pemilik modal cenderung
melakukan kegiatan spekulatif. Hal ini dilakukan dengan
membeli rumah, tanah, dan emas yang nilainya relatif stabil.
Cara ini dirasa oleh mereka lebih menguntungkan.
d) Menyebabkan Tingkat Bunga Meningkat dan Akan
Mengurangi Investasi
Untuk menghindari kemerosotan nilai uang dari modal yang
mereka pinjamkan, lembaga keuangan akan menaikkan
suku bunga pinjaman. Apabila tingkat inflasi tinggi, suku
bunga juga tinggi. Tingginya suku bunga pinjaman akan
mengurangi penanaman modal untuk membuka usahausaha
produktif.
Sumber: Dokumen Penerbit
Gambar 7.13
Inflasi cenderung merugikan mereka yang
berpendapatan tetap seperti pegawai negeri sipil
(PNS).
220 EKONOMI Kelas X
e) Menimbulkan Ketidakpastian Keadaan
Ekonomi di Masa Depan
Tingkat inflasi yang cukup parah dan gagal
dikendalikan oleh pemerintah akan berdampak
pada ketidakpastian ekonomi.
Selanjutnya, arah perkembangan ekonomi
sulit diramalkan. Keadaan ini akan mempersulit
masyarakat (konsumen) maupun
pengusaha. Konsumen cenderung melakukan
penimbunan barang karena takut barang
tidak tersedia. Produsen akan sulit memperhitungkan
biaya produksi karena harga bahan
baku terus berubah.
Sumber: Tempo, Juni–Juli 2004
Gambar 7.14
Penimbunan banyak terjadi pada masa inflasi.
f) Menimbulkan Masalah Neraca Pembayaran
Inflasi di dalam negeri menyebabkan harga barang-barang
impor menjadi lebih murah sehingga masyarakat lebih
menyukai barang impor. Hal ini berpengaruh pada terjadinya
defisit neraca pembayaran dan kemerosotan nilai mata uang
dalam negeri.
e. Cara Mengatasi Inflasi
Inflasi ternyata memiliki dampak yang merugikan masyarakat,
terutama masyarakat miskin dan golongan berpenghasilan tetap.
Dalam tingkat yang tinggi, inflasi dapat mengganggu jalannya
perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah melalui
Bank Indonesia memiliki kebijakan untuk mengendalikan inflasi. Yang
dimaksud dengan mengendalikan di sini bukan menghilangkan
inflasi sama sekali, tetapi berusaha mencapai tingkat inflasi yang
ideal (diharapkan).
Berikut ini, Anda akan mengenal beberapa kebijakan pemerintah
dalam mengendalikan inflasi.
1) Kebijakan Moneter
Menurut teori moneter klasik, inflasi terjadi karena
penambahan jumlah uang beredar. Dengan demikian, secara
teoretis relatif mudah untuk mengatasi inflasi, yaitu dengan
mengendalikan jumlah uang beredar itu sendiri. Kebijakan
moneter adalah tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia
untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Ketika
jumlah uang beredar terlalu berlebihan sehingga inflasi meningkat
tajam, Bank Indonesia akan segera menerapkan berbagai
kebijakan moneter untuk mengurangi peredaran uang.
Jenis-jenis kebijakan moneter tersebut antara lain
penetapan persediaan kas, politik diskonto, dan operasi pasar
terbuka. Pada dasarnya, kebijakan-kebijakan tersebut bertujuan
mengurangi jumlah uang beredar.
Pendapatan Nasional 221
Inflasi rendah dan stabil dalam jangka panjang merupakan syarat yang
mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable
growth). Hal ini karena tingkat inflasi berkorelasi positif dengan fluktuasi.
Di saat inflasi tinggi, fluktuasinya juga meningkat, sehingga masyarakat
merasa tidak pasti dengan laju inflasi yang akan terjadi di masa mendatang.
Akibatnya, perencanaan usaha menjadi lebih sulit, dan minat investasi pun
menurun. Ketidakpastian inflasi ini cenderung membuat investor lebih
memilih investasi aset keuangan jangka pendek ketimbang investasi riil
jangka panjang.
Lalu, berapakah tingkat inflasi yang diinginkan atau ditargetkan Bank
Indonesia? Faktor-faktor apa yang dapat memengaruhi pencapaian target
tersebut? Bagaimana peran pemerintah dalam pengendalian inflasi ini?
Coba Anda temukan jawabannya dengan mengunjungi alamat
www.bi.go.id. Rangkumlah hasil pencarian tersebut!
2) Kebijakan Fiskal
Bagaimana kebijakan fiskal dapat
mengendalikan inflasi? Seperti Anda
ketahui, kebijakan fiskal adalah kebijakan
yang berkaitan dengan penerimaan dan
pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal
dilakukan pemerintah untuk mengurangi
inflasi adalah mengurangi pengeluaran
pemerintah, menaikkan tarif pajak dan
mengadakan pinjaman pemerintah.
3) Kebijakan Non-Moneter dan Non-
Fiskal
Selain kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, pemerintah
melakukan kebijakan nonmoneter/
nonfiskal dengan tiga cara, yaitu
menaikkan hasil produksi, menstabilkan
upah (gaji), dan pengamanan harga,
serta distribusi barang.
2. Indeks Harga
Anda telah mempelajari tentang inflasi, lantas
bagaimana cara mengetahui perkembangan
inflasi? Ya, kita dapat menggunakan indeks harga.
Indeks harga merupakan suatu ukuran statistik
untuk menyatakan perubahan-perubahan harga
yang terjadi dari satu periode ke periode lainnya.
Sumber: www.suarapembaruan.com
Gambar 7.15
Pajak yang dibayarkan masyarakat merupakan
salah satu instrumen pengendali inflasi.
Sumber: www.disperindag.go.id
Gambar 7.16
Operasi pasar adalah salah satu cara mengamankan
distribusi barang.
222 EKONOMI Kelas X
Biasanya, indeks harga ditetapkan atas hasil pengumpulan data oleh
Badan Pusat Statistik (BPS). Penetapan indeks harga ini bukan berasal
dari seluruh jenis barang dan jasa yang beredar di pasaran, melainkan
hanya diambil beberapa barang (sampel). Masing-masing harga barang
dan jasa tersebut diberi bobot (weighted) berdasarkan tingkat
keutamaannya. Barang dan jasa yang dianggap paling penting diberi
bobot yang lebih besar.
a. Metode Penghitungan Indeks Harga
Ada dua metode yang digunakan dalam menghitung angka indeks
harga, yaitu metode indeks tidak tertimbang (metode agregatif
sederhana) dan metode angka indeks ditimbang (metode agregatif
tertimbang).
1) Metode Agregatif Sederhana
Dalam metode agregatif sederhana, semua barang dianggap
sama dan dijumlahkan secara agregatif (keseluruhan) baik untuk
tahun dasar maupun tahun yang akan dihitung angka indeksnya.
Angka indeks dengan metode sederhana dirumuskan:





��
��
�� ��
Keterangan:
IA = Indeks harga agregatif.
P
n
= Harga-harga pada tahun ke-n (tahun yang akan dihitung).
P
0
= Harga-harga pada tahun dasar.
�� = Jumlah
Contoh:
Perhatikanlah tabel berikut.
Tabel 7.4 Harga Enam Macam Barang
Tahun 2004, 2005, dan 2006
Bahan Makanan
Harga (Rp) pada Tahun
2004 2005 2006
Beras 3.000 3.500 4.000
Bawang putih 9.000 10.000 12.000
Minyak goreng 4.500 4.800 5.000
Gula pasir 5.300 5.600 6.000
Cabai merah 12.000 15.000 20.000
Telur 6.900 7.200 7.500
Jumlah 40.700 46.100 54.500
Sumber: Dokumen Penerbit
Pendapatan Nasional 223
Jika tahun 2004 sebagai tahun dasar, indeks harga tahun
2005 dan 2006 dihitung sebagai berikut.
I
2005,2004
= ��
��




× 100% =
#"
&#
× 100% = 113,27
I
2006,2004
= ��
��

&


× 100% =
#"
#
× 100% = 133,90
Angka indeks tersebut dapat diartikan bahwa pada tahun
2005, harga enam macam barang mengalami kenaikan sebesar
13,27% dibanding tahun 2004. Tanda % pada nilai tersebut tidak
dinyatakan karena setiap menghitung indeks artinya selalu
dalam persentase sehingga tidak perlu ditulis lagi.
2) Metode Agregatif Tertimbang
Dalam perhitungan angka indeks sederhana (tidak
ditimbang) seperti yang telah diuraikan sebelumnya, terdapat
banyak kelemahan. Kelemahan perhitungan angka indeks tidak
ditimbang muncul terutama karena adanya penggabungan
harga barang, padahal barang-barang yang dihitung memiliki
karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, dalam metode yang
kedua kita akan mengikutsertakan faktor penimbang (bobot)
bagi setiap jenis barang yang akan dihitung angka indeksnya.
Perhitungan angka indeks tertimbang dirumuskan sebagai
berikut.
��
�� ��



'*
'*
*

Keterangan:
I
0 · n
= Indeks harga ditimbang untuk tahun n dengan tahun dasar tahun 0.
P
n
= Harga pada tahun ke-n.
P
0
= Harga pada tahun dasar.
W = Bobot (faktor penimbang).
�� = Jumlah
Dalam metode perhitungan angka indeks agregatif
tertimbang terdapat tiga pendekatan, yaitu:
a) Metode Laspeyres
Metode ini dikemukakan oleh Laspeyres, yaitu suatu
metode penghitungan dengan angka indeks tertimbang
dengan menggunakan faktor penimbang kuantitas harga
pada tahun dasar (Q
o
). Menurut Laspeyres, secara
kuantitatif kebutuhan itu jumlahnya tidak berubah.
224 EKONOMI Kelas X
b) Metode Paasche
Berbeda dengan metode Laspeyres, metode Paasche
mengasumsikan bahwa kuantitas barang mengalami
perubahan dari tahun ke tahun.
c) Metode Marshall
Metode Marshall dilakukan dengan cara menggabungkan
kuantitas tahun dasar dengan kuantitas tahun ke-n sebagai
faktor pembanding.
b. Jenis-Jenis Indeks Harga
Angka indeks harga dibedakan menjadi tiga macam:
1) Indeks Harga Konsumen
Indeks harga konsumen adalah suatu ukuran statistik yang
dapat menunjukkan perubahan-perubahan pada harga komoditas
dan jumlah barang yang dibeli konsumen dari waktu ke
waktu. Indeks harga konsumen disusun oleh Badan Pusat
Statistik berdasarkan data yang berasal dari
konsumen, produsen, lembaga-lembaga konsumen,
dan sebagainya.
Penetapan indeks harga konsumen dilakukan
dengan metode tertentu. Adapun waktu dasar
yang dipergunakan adalah tahun di mana
ekonomi dianggap dalam keadaan stabil. Indeks
harga konsumen diambil dari data empat
kelompok, yaitu kelompok makanan, perumahan,
aneka barang, dan jasa. Dari kelompok-kelompok
tersebut dihasilkan indeks harga konsumen (IHK).
Persentase perubahan harga konsumen akan
menghasilkan angka inflasi.
2) Indeks Harga Perdagangan Besar/Indeks Harga Produsen
Jika IHK melihat inflasi dari sisi konsumen, maka indeks
harga perdagangan besar (IHPB) melihat inflasi dari sisi
produsen. Oleh karena itu, IHPB sering juga disebut indeks
harga produsen (IHP). Indeks harga perdagangan besar
merupakan angka indeks yang menunjukkan perubahan pada
harga pembelian barang oleh para pedagang besar. Berbeda
dengan indeks harga konsumen yang ditetapkan dalam satuan
kecil, indeks harga perdagangan besar ditetapkan dalam ukuran/
kuantitas borongan.
Besar kecilnya indeks harga perdagangan besar sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain:
a) Kenaikan biaya produksi.
b) Kebijakan perdagangan pemerintah.
c) Kebijakan dalam bidang moneter.
d) Perubahan nilai uang.
Sumber: Dokumen Penerbit
Gambar 7.17
Barang-barang yang termasuk kelompok bahan
makanan.
Pendapatan Nasional 225
3) Indeks Harga yang Diterima dan Dibayar Petani
Indeks harga yang diterima petani
adalah indeks harga yang berhubungan
dengan penetapan harga dasar untuk
barang-barang hasil pertanian. Sedangkan
indeks harga yang dibayar petani
berhubungan dengan penetapan harga
kebutuhan pertanian misalnya pupuk,
benih, dan obat pembasmi hama.
Kedua angka indeks tersebut dapat
dijadikan ukuran yang menunjukkan
besarnya perubahan pada harga-harga
produk yang dijual petani dan produk
yang dibeli petani.
Angka indeks yang diterima petani
dipengaruhi oleh beberapa faktor di
antaranya harga pembelian obat-obatan
yang diperlukan petani, jumlah hasil produksi, dan musim.
Sedangkan angka indeks yang dibayarkan petani sangat
dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, politik dagang, dan nilai
uang. Kebijakan pemerintah untuk bidang pertanian seharusnya
mulai memihak pada petani karena selama ini indeks yang
dibayar petani masih terlalu besar dibandingkan indeks yang
diterima petani.
Sumber: www.iptek.net.id
Gambar 7.18
Harga pupuk diperhitungkan dalam indeks harga
yang dibayar petani.
Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator untuk mengukur
tingkat kesejahteraan petani. Nilai tukar petani (NTP) adalah rasio antara
indeks harga yang diterima petani (IT) dengan indeks harga yang dibayar
petani (IB) yang dinyatakan dalam persentase. Secara konsepsional, NTP
adalah pengukur kemampuan tukar barang-barang (produk) pertanian yang
dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi
rumah tangga dan keperluan dalam memproduksi produk pertanian.
Secara umum NTP menghasilkan tiga pengertian:
a. NTP > 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu lebih baik
dibandingkan dengan NTP pada tahun dasar.
b. NTP = 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu sama dengan
NTP pada tahun dasar.
c. NTP < 100 berarti NTP pada suatu periode tertentu menurun
dibandingkan NTP pada tahun dasar.
226 EKONOMI Kelas X
Harga yang diterima petani adalah rata-rata harga produsen dari hasil
produksi petani sebelum ditambahkan biaya transportasi/pengangkutan
dan biaya pengepakan ke dalam harga penjualannya atau disebut farm
gate (harga di sawah/ladang setelah pemetikan). Pengertian harga ratarata
adalah harga yang bila dikalikan dengan volume penjualan petani
akan mencerminkan total uang yang diterima petani tersebut. Data harga
tersebut dikumpulkan dari hasil wawancara langsung dengan petani
produsen. Sedangkan harga yang dibayar petani adalah rata-rata harga
eceran barang/jasa yang dikonsumsi atau dibeli petani, baik untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri maupun untuk keperluan
biaya produksi pertanian. Data harga barang untuk keperluan produksi
pertanian dikumpulkan dari hasil wawancara langsung dengan petani,
sedangkan harga barang/jasa untuk keperluan konsumsi rumah tangga
dicatat dari hasil wawancara langsung dengan pedagang atau penjual jasa
di pasar terpilih.
Bagaimana cara memperoleh data NTP ini? Data NTP diperoleh dari
publikasi BPS Pusat, yaitu Buletin Ringkas dan Buletin Indikator Ekonomi
yang diterbitkan setiap bulan. Klasifikasi indeks yang tercakup dalam
publikasi tersebut adalah:
a. Indeks harga yang diterima petani (IT) terdiri atas:
Indeks sektor tanaman bahan makanan (TBM):
1) Indeks kelompok padi
2) Indeks kelompok palawija
3) Indeks kelompok sayur-sayuran
4) Indeks kelompok buah-buahan
b. Indeks sektor tanaman perkebunan rakyat (TPR):
Indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat
c. Indeks harga yang dibayar petani (IB) terdiri atas:
1) Indeks sektor konsumsi rumah tangga (KRT):
a) Indeks kelompok makanan
b) Indeks kelompok perumahan
c) Indeks kelompok pakaian
d) Indeks kelompok aneka barang dan jasa
2) Indeks sektor biaya produksi dan penambahan barang modal
(BPPBM):
a) Indeks kelompok nonfaktor produksi
b) Indeks kelompok upah
c) Indeks kelompok lainnya
d) Indeks kelompok penambahan barang modal
4) Indeks Harga Implisit
Walaupun sangat bermanfaat, IHK dan IHPB memberikan
gambaran laju inflasi yang sangat terbatas. Untuk mendapatkan
gambaran inflasi yang paling mewakili keadaan sebenarnya,
dapat digunakan indeks harga implisit (GNP deflator). Dengan
metode ini, Anda dapat membandingkan pertumbuhan ekonomi
nominal dengan pertumbuhan ekonomi riil.
Pendapatan Nasional 227
GNP deflator adalah rasio GNP (Gross National Product)
nominal pada tahun tertentu terhadap GNP riil pada tahun
tersebut. Hal ini merupakan ukuran inflasi dari periode di mana
harga dasar untuk perhitungan GNP riil digunakan sampai GNP
sekarang. Perhitungan cara ini melibatkan semua barang yang
diproduksi.
Misalnya, Indonesia memproduksi dua jenis barang, yaitu
radio dan televisi. Pada tahun 1996, jumlah produksi radio adalah
1.000 buah dan produksi televisi berjumlah 500 buah. Harga
radio Rp50.000,00 per buah, sedangkan harga televisi
Rp500.000,00 per buah. Pada tahun 2006, produksi kedua
barang tersebut mengalami peningkatan dari segi jumlah dan
harganya. Produksi radio menjadi 1.500 buah dan televisi 750
buah. Sedangkan harga radio naik menjadi Rp80.000,00 dan
harga televisi naik menjadi Rp800.000,00 maka GNP deflator
tahun 2006 dapat dihitung sebagai berikut.
Tabel 7.5 Perhitungan GNP Deflator Tahun 2006
Tahun
Radio Televisi
GNP Nominal
Jumlah Harga (Rp) Jumlah Harga (Rp)
1996 1.000 50.000 500 500.000 (1.000 × Rp50.000,00) + (500 × Rp500.000,00)
= Rp300.000.000,00
2006 1.500 80.000 750 800.000 (1.500 × Rp80.000,00) + (750 × Rp800.000,00)
= Rp720.000.000,00
Sumber: Dokumen Penerbit
GNP riil tahun 2006 dengan menggunakan tingkat harga
tahun sebagai tahun dasar 1996 adalah:
(1.500 × Rp50.000,00) + (750 × Rp500.000,00)
= Rp75.000.000,00 + Rp375.000.000,00 = Rp450.000.000,00
GNP deflator tahun 2006 adalah:
@ # # ;
@ " # # ;
× 100% = 160%
Oleh karena tahun dasar sebagai pembanding terhadap
periode lain selalu diberi nilai seratus maka, dalam periode tahun
1996 hingga 2006 terjadi kenaikan harga sebesar 60%
(160% – 100 = 60%), atau rata-rata

&
% = 6% per tahun.
228 EKONOMI Kelas X
c. Menghitung Inflasi dengan Indeks Harga
Untuk mengukur besarnya laju inflasi dapat menggunakan
indeks harga seperti yang telah Anda pelajari di depan. Laju inflasi
dapat dicari dengan rumus:
Inflasi =


[ [
\
[
�� ��
��
Keterangan:
IHK = Indeks harga periode ini.
IHK
-1
= Indeks harga periode sebelumnya.
Daftar harga beras dari tahun 2004 sampai dengan 2006.
Tahun Harga (Rp)
2004 2.500
2005 2.800
2006 3.100
Sumber: Dokumen Penerbit
Berdasarkan data di atas:
1) Hitunglah indeks harga (IH)!
2) Hitunglah laju inflasi tahun 2005 dan 2006 dengan tahun dasar
tahun 2004!
Jawaban:
1) IH tahun 2004 =
[ ]
[ ]
× 100%
=
#
#
× 100% = 100%
IH tahun 2005 =
[ ]
[ ]
× 100%
=
#
#^
× 100% = 112%
IH tahun 2006 =
[ ]
[ ] &
× 100%
=
#
_#
× 100% = 124%
Pendapatan Nasional 229
2) Laju inflasi tahun 2005 =

��
× 100%
= 22%
Laju inflasi tahun 2006 =

��
× 100%
= 10,7%.

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

About

Fast Payday
Powered by: Fast payday loans